Langsung ke konten utama

Perjalanan Menemukan Mimpi Kembali Setelah Punya Anak

Sejak kecil aku menyukai dunia seni dan hal-hal berbau kreatif. Cita-citaku, kalau nggak jadi penulis ya ilustrator (baca: My Passion Story  ) Berangkat dari hal itu, aku memilih jurusan seni sebagai pendidikan formalku.  Selama ini aku cukup idealis dan ambisius dalam mengejar sesuatu. Di sekolah aku termasuk murid berprestasi. Aku senang ikut berbagai kompetisi dan sering memenangkan penghargaan. Aku juga berhasil mendapatkan beasiswa di kampus ternama yang menjadi impian banyak orang. Lalu, setelah lulus aku bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan fashion, sesuatu yang memang aku inginkan selama ini.  Tapi semuanya terhenti sejak aku punya anak. Aku merasa kehilangan banyak hal. Tidak adanya pencapaian membuatku merasa " unworthy ". Bisa dibilang itu menjadi salah satu titik terendahku (baca:  Perjalanan Seorang Ibu Berdamai dengan Diri Sendiri  )  Namun, di saat bersamaan, seolah Tuhan ingin memberitahuku, bahwa hidup tidak sekedar mengejar nilai dan angka-an

Review Film Kim Ji Young, Perempuan di Tengah Budaya Patriarki


Katanya film yang sukses adalah film yang mampu membuat penontonnya terngiang-ngiang setelah menonton. Dan film ini berhasil banget "menghantuiku". Rasanya aku nggak akan tenang kalau belum menumpahkannya dalam bentuk review.


Kim Ji Young, Born 1982. Seperti judulnya cerita ini terpusat pada tokoh Ji Young, seorang ibu rumah tangga biasa dengan kesehariannya mengurus rumah, suami dan anaknya yang masih berusia 2 tahun.


Film ini sangat relate dengan kehidupanku sebagai ibu rumah tangga yang juga memiliki bayi. Setiap adegan benar-benar menggambarkan keseharian seorang ibu rumah tangga. Bagaimana sibuk dan repotnya mengurus anak. Juga berbagai perasaan dan pertarungan batin yang berkecamuk. Lelah, hampa, jenuh dengan keseharian yang sangat monoton, belum lagi adanya perasaan dilema antara ingin mengejar karier namun tidak bisa meninggalkan anak. Tentunya ini juga relate dengan banyak ibu lainnya.


Di part awal film ini terasa agak membosankan. Alur yang flat dan lambat membuatku sulit menerka konflik apa yang akan terjadi karena sekilas semua terlihat baik-baik saja. Setidaknya itu jugalah yang diyakini oleh Ji Young, ia merasa dirinya baik-baik saja. Cerita mulai menarik ketika Ji Young mulai menunjukan sikap aneh, hingga akhirnya suami Ji Young lah yang menyadari bahwa istrinya sedang mengidap depresi.

Jika menengok realita, pasca melahirkan seorang ibu memang rentan mengalami depresi. Perubahan hormon yang drastis, baby blues berkepanjangan, penyesuaian diri dengan peran baru sebagai ibu, perubahan rutinitas dari wanita karier menjadi ibu rumah tangga, termasuk rasa kecewa karena harus mengorbankan mimpi demi anak. Semua itu bisa jadi pemicunya. Ditambah lagi, dalam cerita ini Ji Young juga memiliki masa lalu yang buruk. Sebagai perempuan ia kerap kali mendapat perlakuan disktimitif dari orang-orang di sekitarnya. Tidak hanya oleh kaum lelaki tapi juga sesama perempuan. Ketika ia menjadi ibu ingatan-ingatan itu kembali bermunculan.

Menariknya, tidak semua lelaki dalam film ini digambarkan bersikap diskriminatif. Adalah Jung Dae Hyun (diperankan oleh Gong Yoo) suami Ji Young yang merupakan tipe suami idaman semua wanita. Tau dong Gong Yoo, pemeran utama dalam serial Goblin? Tidak hanya ganteng, dalam film ini ia juga digambarkan sebagai suami yang sangat peduli dan memahami kondisi istrinya. Di beberapa adegan juga ditunjukan bahwa ia mau membantu pekerjaan sehari-hari sang istri (Duhh, asli ini bikin melting 😍. Sama melting-nya kalau ngelihat paksu lagi bantu-bantu pekerjaan rumah).


Hal ini cukup menohok. Suami yang care seperti Dae Hyun saja belum tentu bisa menghindarkan istri dari depresi. Sementara di luar sana ada banyak suami yang kurang peka, merasa gengsi dan menganggap bahwa pekerjaan rumah tangga sepenuhnya adalah tanggung jawab istri.

Film ini benar-benar menyuarakan isi hati banyak perempuan. Berbagai isu perempuan diangkat secara komplit, dikemas dengan jalan cerita yang menarik. Mulai dari stigma masyarakat tentang perempuan, posisi perempuan di tengah keluarga dan lingkungan kerja yang sering dipandang sebelah mata, hingga isu tentang seksual harassement di mana perempuan sebagai korban justru kerap kali disalahkan.

Film ini mencoba membuka mata bahwa budaya patriarki masih sangat kental di masyarakat. Dan Ji Young adalah salah satu korban dari ketidakberdayaan melawan budaya patriarki tersebut. Sangat disayangkan kenapa film ini justru menjadi kontroversi bahkan kabarnya sempat diboikot di negaranya sendiri, Korea Selatan.

Ini adalah salah satu film yang wajib ditonton tidak hanya oleh perempuan namun juga kaum lelaki. Apalagi dengan deretan pemain yang kualitas aktingnya tidak perlu diragukan lagi. 


Ada Jung Yu Mi. Selain karakter wajahnya memang cocok memerankan Ji Young, ia juga sangat menjiwai perannya itu. Tanpa perlu banyak kata, ia bisa memperlihatkan beban berat yang dipendam oleh Ji Young melalui ekspresi wajah dan gesture yang ia ditunjukkan sepanjang film. Gong Yoo sebagai lawan main dapat mengimbangi. Aktingnya natural. Chemistry-nya bersama Jung Yu Mi sebagai pasangan suami istri pun oke.


Ada juga aktris senior Kim Mi Kyung. Karakter sebagai wanita sombong dan serakah dalam film Person Who Gives Happines melekat kuat dalam dirinya. Namun di film ini ia berhasil lepas dari itu, menjadi ibu Ji Young (Mi Sook), sosok wanita tegar yang sangat menyayangi anaknya dan rela berkorban untuknya.

O iya, film ini diangkat dari novel best seller Korea dengan judul yang sama. Ditulis oleh Cho Nam Joo, seorang mantan penulis naskah di salah satu stasiun televisi Korea. Kabarnya ia terinspirasi dari kisah hidupnya sendiri yang tidak jauh beda dengan Kim Ji Young.  Mungkin kalian pernah melihat bukunya di toko buku atau bahkan pernah membacanya?

Over all film ini sangat recommended untuk ditonton!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Softlens New More Dubai (Honey Brown)

Sebagai penderita mata minus aku jarang banget memakai softlens. Aku lebih memilih pakai kacamata untuk sehari-hari karena nggak ribet, dan hanya memakai softlens untuk event tertentu saja seperti kondangan atau acara spesial lain. Kebetulan bulan ini banyak banget undangan nikahan. Jadi aku memutuskan untuk beli softlens lagi. Walau hanya perintilan kecil aku ngerasa ini ngaruh banget untuk penampilanku keseluruhan. Meski baju dan dandanan udah cantik, kalau pakai kacamata tuh rasanya kurang perfect aja gitu.

Silly Gilly Daily: Rekomendasi Bacaan untuk Para Introvert

Beberapa tahun ini buku dengan konsep full colour dengan gambar-gambar ilustrasi sedang naik daun. Ditandai dengan munculnya buku #88LOVELIFE karya fashion blogger Diana Rikasari dan ilustrator Dinda PS pada tahun 2015 (Kabarnya buku ini sempat ditolak oleh penerbit sebelum akhirnya menjadi buku best seller ). Hingga baru-baru ini muncul buku yang fenomenal banget, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (nkcthi) yang langsung terjual 5000 eksemplar di menit-menit pertamanya (Aku termasuk salah satu yang menunggu2 buku ini terbit. Sampai harus bolak balik ke toko buku karena selalu sold out ). Kehadiran buku berilustrasi semacam ini menurutku memberi dampak sangat positif sehingga masyarakat antusias datang ke toko buku. Padahal dari segi harga buku ini tidaklah murah. Orang yang tadinya nggak suka membaca mulai tertarik dengan buku karena ilustrasinya. Bagi yang memang hobi membaca, mereka jadi punya alternatif bacaan yang nggak cuma berisi tulisan aja.

Talk about Relationship

Ada sebuah buku menarik berjudul Eneagram karya Renee Baron dan Elizabeth Wagele. Yang berisi tentang 9 tipe kepribadian manusia. Selain memberi ulasan tentang masing-masing tipe, buku ini juga memberikan semacam test untuk mengetahui termasuk ke dalam tipe manakah kita. Beberapa waktu lalu aku dan suami sama-sama mencoba test tersebut dan hasilnya cukup mengejutkan. Point tertinggi yang kuperoleh ada pada tipe romantis. Sebaliknya di tipe ini suami mendapat point terendahnya. Dari situ akupun menyadari apa yang sering menjadi akar masalah kami selama ini, terutama di tahun-tahun awal kami bersama. Kami memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Aku sering merasa suami terlalu cuek, tidak perhatian dan tidak romantis. Sebaliknya, mungkin ia merasa kesal karena aku terlalu melankolis dan lebay. Lalu bagaimana akhirnya kami bisa bertahan dengan perbedaan tersebut? Jodoh bukan berarti harus 100% langsung cocok. Butuh proses panjang untuk itu. Karena pada dasarnya setiap orang memili