Selasa, 12 Maret 2019

Pengalaman Melahirkan


Selasa, 11 Desember 2018 menjadi salah satu hari paling bersejarah dalam hidupku. Karena di hari itulah aku merasakan sendiri bagaimana beratnya perjuangan seorang ibu melahirkan (Jadi langsung terharu keinget almarhumah ibu).

Berawal saat usia kandunganku memasuki 39 minggu. Aku mulai ngrasain mulas seperti mau haid. Meski ringan, tapi aku agak curiga karena rasa mulas itu tidak kunjung hilang bahkan datang secara teratur. Setahuku itu salah satu ciri bahwa persalinan sudah dekat. Karena penasaran keesokan harinya aku datang ke dokter di Klinik Al Islam, Awi Bitung. Kebetulan memang pas dengan jadwal kontrol rutin. Dari pemeriksaan dokter diketahui ternyata aku sudah memasuki bukaan 2. Hari itu dokter menyuruhku untuk pulang karena kemungkinan proses pembukaan selanjutnya masih lama. Tapi sebelum itu, ia memintaku untuk rekam jantung lebih dulu untuk memastikan kondisi detak jantung bayi normal.


Selama kurang lebih 20 menit, di ruang IGD aku dipasangi alat perekam detak jantung. Dari hasil yang diperoleh ternyata detak jantung bayi lemah. Dokter menyarankan agar aku diinfus. Untuk pertama kalinya aku merasakan bagaimana selang infus menembus kulitku. Tanganku sampai gemeteran karena takut. Bidan yang masangin infus justru ketawa dan bilang, "Ini baru infus loh, belum nanti melahirkan." Waahh tambah gemeteran aja aku.

Satu jam kemudian, setelah menghabiskan dua kantung infus, aku kembali dipasangi alat perekam detak jantung. Alhamdulillah, kali ini hasilnya membaik. Detak jantung bayinya udah normal. Kemungkinan aku cuma mengalami dehidrasi aja. Iya sih, seharian itu aku emang lebih banyak tidur sampai-sampai lupa minum. Jadi agak nyesel, kalau aja aku minum cukup pasti nggak kan ada infus-infusan segala. Setelah semuanya beres, kira-kira pukul 11 malam aku baru diijinkan pulang.

Di rumah, aku tidak bisa tidur nyenyak karena kontraksi yang kurasakan semakin kuat dan intens. Belum lagi tulang punggung bawah serasa mau patah. Hingga paginya aku merasakan ada cairan ketuban yang merembes lumayan banyak. Karena udah diwanti-anti oleh bidan di kelas hypnobirthing untuk nggak usah terburu-buru ke rumah sakit, jadi aku masih santai aja. Bahkan suami masih sempat ke kantornya buat ngambil paket dari olshop (yang ternyata isinya kado ultah buat aku, padahal ulang tahunku masih 2 bulan lagi πŸ˜‚).

Kira-kira jam 1 siang kami berangkat lagi ke Klinik Al Islam. Setelah dicek, bukaan udah bertambah menjadi 4. Bidan menyarankanku untuk langsung dirawat di klinik karena kemungkinan hari ini atau besok aku akan lahiran. Waaah semakin berdebar aja.

Setelah cukup lama menunggu di IGD, aku dipindahkan ke ruang observasi. Sementara itu suami pulang untuk mengambil barang-barang. Untungnya semua udah dipersiapkan jauh hari, jadi suami nggak bingung-bingung lagi nyari ini itu, cuma tinggal ambil aja. Sambil menunggu suami kembali, aku memilih berjalan kaki di koridor klinik sesuai saran bidan. Katanya berjalan kaki bisa mengeluarkan hormon oksitosin yang akan membantu mengurangi rasa sakit dan mempermudah persalinan (Aku memang berharap bisa lahiran sealami mungkin, tanpa banyak intervensi medis. Karena itulah sebisa mungkin aku menghindari obat pereda nyeri apalagi suntik epidural untuk mempercepat pembukaan). Dan emang bener sih. Aku ngrasain banget efek dari jalan kaki. Dengan aktif bergerak rasa sakit bisa teralihkan. Beda dengan kalau cuma tiduran aja di kasur, malah kerasa banget sakitnya. Setelah itu pembukaan juga jadi lebih cepet.

Sehabis Isya, aku masih berusaha aktif bergerak dengan latihan yoga. Namun aku udah nggak bisa fokus karena kontraksi semakin kuat. Pantas aja setelah dicek oleh bidan ternyata udah bukaan 8. Aku diminta segera masuk ke ruang bersalin. Yang bikin kaget, aku baru diberi tahu bahwa ternyata kantung ketubanku masih utuh. Aku yang sotoy ini salah mengira kalau cairan yang terus merembes sebagai ketuban rembes padahal hanya keputihan biasa.

Di ruang bersalin aku masih harus menunggu pembukaan lengkap. Rasanya udah nggak bisa dijelasin lagi. Aku cuma bisa berdzikir menyebut nama Allah. Suami terus mendampingi sambil memutarkan lagu yang 'konon' jadi lagu favoritnya baby sewaktu masih di perut. Biar baby-nya cepet keluar katanya πŸ˜…. Mungkin baby seneng, aku yang tambah pusing karena satu lagu itu diulang-ulang terus. Tapi apa daya, mau protes pun udah nggak sanggup berkata-kata. O ya, banyak sumber menyebutkan bahwa pijatan suami sangat membantu mengeluarkan hormon kebahagiaan/oksitosin yang bisa meringankan nyeri kontraksi. Anehnya, jangankan dipijat, disentuh aja aku nggak mau. Bawaannya justru pengen marah-marah. Nggak tau ya kayaknya jadi tambah nyeri aja gitu. Suami yang biasa ngelus-elus perut sambil ngajak ngobrol baby terpaksa harus menahan diri. Sampai-sampai dia juga bingung harus ngapain. Padahal sebenarnya kehadirannya aja udah sangat berarti buatku.

Kali ini pembukaan nggak selama yang sebelumnya. Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga. Bidan memberi tahu bahwa persalinan udah bisa dimulai. Tapi sebelumnya ketubannya mau dipecah dulu. Saat ketuban dipecah, rasanya seperti ada balon air yang meletus di dalam perut. Sensasinya bikin aku kaget dan panik. Belum lagi tiba-tiba jadi ada dorongan kuat dari dalam rahim. Waktu itu aku nggak teriak sih, cuma nangis sambil nyebut nama Allah kencang-kencang. Haha.

Berkali-kali bidan mengingatkanku untuk tetap tenang dan bernafas dengan benar. Tapi itu sulit banget. Aku nggak bisa ngontrol diri. Aku udah panik karena bayinya nggak mau keluar juga meski aku sudah beberapa kali mengejan. Aku takut kalau bayinya terjebak di jalan lahir dan nggak bisa napas. Akhirnya aku diam sejenak, mencoba ngontrol emosi, bicara sama bayi agar mau keluar, sambil ngumpulin tenaga. Lalu aku pun mengejan sekuat-kuatnya, nggak peduli apa caraku udah bener atau belum. Bener-bener cuma ngandalin insting. Alhamdulillah, bayi cowok seberat 2,6kg berhasil nongol juga. Setelah itu rasa sakit seolah nggak terasa lagi. Aku cuma fokus denger tangisan bayi. Tangisan pertamanya itu adalah suara terindah yang pernah kudengar. Apalagi pas aku bisa meluk bayi untuk pertama kalinya dan ada suami di sisiku. Rasanya bahagia banget.

O ya, sebelumnya aku sempet nyinggung soal keinginanku melahirkan secara lembut (gentle birth). Dari ceritaku barusan bisa disimpulkan bahwa aku udah gagal merealisasikan keinginanku itu. Ternyata sekedar tau ilmunya aja nggak cukup. Gentle birth bukan cuma soal melahirkan aja, melainkan sebuah proses panjang sejak masa kehamilan. Harus rutin dilatih seperti latihan pernafasan, membiasakan afirmasi positif dan olah raga. Termasuk sering memijat perenium untuk menghindari robekan di area perenium. Itu yang kadang malas kulakukan. Mau nggak mau aku harus nerima jahitan juga. Tapi ya udahlah buat pengalaman. Yang penting bayi bisa lahir dengan selamat dan sehat tanpa kurang suatu apapun. Aku juga bisa pulih dalam waktu cepat.

Di postingan selanjutnya aku masih akan cerita banyak seputar baby (tapi nggak tau kapan. Hihii..) Jangan bosen yaa. Sampai jumpa di cerita berikutnya!


9 komentar:

  1. Selamat atas kelahiran bayinya semoga jadi anak yang sholeh ya.. Aamiin..

    BalasHapus
  2. Subhanallah ❤️ merinding n mules tapi ikut seneng ya bisa lahiran normal tapi segitumah gentle atuh kak da dipermudah n minim intervensi btw aku juga dulu males pijat vagina huhu. Oia saran g+ kan mau tutup jdi moderasi komen anyone aja ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waahhh.., makasih udah diingetin. Haha.. expektasinya sih pengen bisa lebih tenang lagi.

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. selamat yaa, yang penting baby nya sehatt :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiihh.. iya, itu yang penting 😁

      Hapus
  5. Selamat bunda😊 semoga anaknya sholeh, jadi krbanggaab ortu

    BalasHapus