Langsung ke konten utama

Perjalanan Seorang Ibu Baru Berdamai dengan Diri Sendiri

Butuh waktu 3 tahun sampai aku bener-bener bisa menerima peran baruku sebagai ibu. Sebelumnya, aku cukup struggle dengan segala perubahan yang terjadi. Duniaku melambat. Aku yang selama ini ambisius tiba-tiba harus kehilangan apa yang selama ini kukejar. Karier, kebebasan, penghasilan dan juga mimpi-mimpiku. Aku ngerasa useless , nggak berharga, nggak berdaya sehingga aku marah ke diri sendiri. Aku juga ngerasa bersalah karena nggak mampu membahagiakan orang-orang yang kucintai. Kondisiku ini, kalau dilihat dari skala kesadaran manusia, berada pada level terendah, lebih rendah dibandingkan perasaan sedih, di mana orang-orang bisa sampai terpikir bunuh diri, itu karena dia udah ada pada level kesadaran tersebut. Untungnya, aku masih cukup waras untuk tidak melakukan hal-hal yang membahayakan. Meski begitu, aku selalu dilanda kecemasan hampir setiap saat. Desember 2021, bulan di mana anakku tepat berusia 3 tahun. Aku merasa bahwa yang terjadi denganku sudah sangat mengganggu. Sempet coba

Catatan Kehamilan

Happy new year! Senengnya bisa menyapa pembaca blogku lagi. Ini menjadi tulisan pertamaku di tahun 2019 sekaligus yang pertama juga setelah 6 bulan vacum karena cuti hamil (halah, sok-sokan cuti segala). Dan akhirnya di penghujung 2018 kemarin aku dapat kado luar biasa dari tuhan berupa lahirnya si buah hati. Berbagai suka duka kualami selama masa kehamilan, lahiran hingga pasca melahirkan. Bahkan aku baru aja lepas dari masa-masa baby blues. Makanya, aku baru bisa share pengalaman sekarang, setelah semuanya kondusif.



Aku akan mulai cerita tentang masa kehamilanku. Masa kehamilan kulewati dengan sangat menyenangkan. Alhamdulillah, aku nggak ngalami keluhan yang umumnya dirasakan ibu hamil seperti pusing dan mual. Konon banyak juga bumil yang berubah jadi sangat sensitif, hal itu pun nggak kurasain (justru sebelum hamil aku malah lebih sensitif. Haha) Bahkan di awal kehamilan nggak ada tanda-tanda yang kurasakan, kecuali mules seperti mau haid. Tapi anehnya haid nggak kunjung datang juga. Dari situlah aku mulai curiga dan memutuskan untuk test kehamilan menggunakan testpack. Ternyata hasilnya positif. Begitu ngasih tahu suami dia langsung happy dan udah bingung aja pengen nyari nama dan perlengkapan bayi (lebay sih emang). Beda banget sama aku yang justru nggak percaya meski udah 2 kali test menggunakan merk testpack yang berbeda. Pokoknya belum akan percaya kalo belum chek langsung ke dokter. Mulailah aku browsing-browsing untuk cari dokter kandungan. Agak bingung juga sih. Sebagai pendatang di kota bandung, aku sama sekali nggak tau rekomendasi dokter kehamilan yang bagus. Untung ada internet yang bisa diandalkan. Dan pilihanku pun jatuh pada klinik al islam di awi bitung, cicadas yang letaknya yang cukup dekat dengan kosku. Oleh dokternya aku dinyatakan positif hamil. Kondisi janinnya sehat dan normal. Lebih happy lagi ternyata usia kandunganku udah 2 bulan!


Trimester pertama dan kedua aku hampir nggak ngalami perubahan yang berarti (selain lebih dimanja sama suami tentu aja). Selebihnya, aku juga tetep ngerjain kerjaan rumah tangga seperti biasa. Kalau bosen aku pergi jalan-jalan sendiri, nonton atau sekedar nongkrong di mall. Pokoknya aku nggak terlalu membatasi diri. Ada satu nasehat anti mainstream dari bulekku yang terus kupegang. Dia nggak nyuruh untuk memperbanyak istirahat seperti yang disarankan kebanyakan orang. Dia justru memintaku untuk jangan manja. Apalagi mengatasnamakan kehamilan untuk bermalas-malasan. Katanya, untuk melatih anak sejak dalam kandungan. Aku juga pernah dengar sih nasehat yang hampir serupa di sebuah ceramah pengajian. Bagaimana dulu di jaman nabi ada kisah tentang asma binti abu bakar yang sedang hamil. Ia rela mendaki bukit dan menempuh perjalanan jauh demi mengantarkan makanan untuk rasulullah dan abu bakar yang sedang bersembunyi di gua tsur. Pantas orang-orang yang lahir di jaman dulu begitu tahan banting, nggak hanya secara fisik tapi juga mental. Tentu aja tiap bumil punya kondisi yang berbeda-beda. Ada bumil yang memang diharuskan bed rest karena ada masalah dengan kandungannya. Tapi selama ibu dan janin sehat sebaiknya memang tetap beraktivitas. Tidak perlu khawatir akan membahayakan janin. Setiap bumil memiliki naluri untuk mengetahui batasan masing-masing dan bisa merasakan kapan dia harus berhenti.

Di trimester ketiga beberapa keluhan mulai kurasakan. Seperti insomnia, sakit pinggang dan gerak yang terbatas karena dedek di perut udah semakin gede. Untungnya itu nggak terlalu parah. Aku malah semakin semangat untuk olah raga (walaupun nggak rutin-rutin amat. Mulai dari yoga (belajar sendiri dari youtube), jalan kaki hingga renang. Itu semua ngebantu banget bikin tubuh tetap bugar sekaligus rilex menghadapi persalinan yang semakin dekat. Aku juga sempet ngikuti kelas hypnobirthing. Sayangnya dari 3x pertemuan cuma bisa ikut 1x karena dedek udah keburu brojol. Sejak awal aku udah tertarik banget dengan konsep hypnobirthing ini. Selama ini secara tidak sadar kita udah teracuni dengan cerita orang-orang bahwa melahirkan itu sakit, penuh drama, dan lain-lain. Sampai ada yang memilih caecar karena takut menjalani persalinan normal. Padahal sebenarnya setiap wanita itu didesain untuk bisa melahirkan secara normal. Lagipula pengalaman setiap wanita itu berbeda-beda. Belum tentu yang mereka rasakan akan kita rasakan juga. Intinya kita diajak untuk merubah mindset, sekaligus menanamkan sugesti positif agar dapat melahirkan dengan normal, tenang dan minim rasa sakit.

Lebih jauh lagi aku juga mencari tahu tentang gentle birth. Ada sebuah talk show menarik yang kutemukan di youtube. Pembicaranya dewi lestari dan suaminya yang seorang terapis (pakar penyembuhan holistik). Disebutkan bahwa sebenarnya melahirkan bukanlah sebuah peristiwa medis, yang tanpa bantuan dokterpun bisa dilakukan. Di situ dewi lestari juga berbagi pengalamannya melahirkan secara gentle birth di rumahnya sendiri tanpa bantuan medis. Hanya ada seorang bidan, itupun baru datang beberapa saat setelah proses lahiran selesai. Metode ini memungkinkannya untuk melahirkan secara alami, tenang, lembut, tanpa banyak intervensi medis sehingga meminimalisir trauma persalinan. Efek terhadap bayinya pun sangat terasa. Dibanding anak pertamanya yang lahir secara caesar, anak keduanya ini lebih jarang sakit dan rewel.


Hmmm, ini kalau dijelaskan lebih lanjut bisa panjang kali lebar. Yang jelas aku jatuh hati banget dengan metode gentle birth ini dan langsung memasukannya dalam daftar birth planku. Kira-kira berhasil nggak ya aku lahiran dengan metode gentle birth? Sabar dulu yaa. Insyaallah, aku akan sambung di postingan berikutnya. Jadi, keep stay tune!

Komentar

  1. salam kenal mbak, btw selamat buat kelahiran putra nya ya semoga ibu dan bayi selalu diberi kesehatan ;D, momen baby blues memang luar biasa menakjubkan apalagi di anak pertama sampe sekarang kadang masih ngrasain sedikit-sedikit, tapi alhamdulillah setelah ada pelarian nulis di blog kondisi saya jadi lbh baik, ditunggu share cerita selanjut nya ya mbak ;D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siaap! Bener banget. Sy jg terbantu dengan menulis blog. Selain itu dukungan dari suami dan teman2 sesama new moms jg berperan penting

      Hapus
  2. Hi mbak ^^ salam kenal dari Niklosebelas yaa...
    Semoga mbak dan keluarga sehat dan bahagia selalu. Aamiin

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Softlens New More Dubai (Honey Brown)

Sebagai penderita mata minus aku jarang banget memakai softlens. Aku lebih memilih pakai kacamata untuk sehari-hari karena nggak ribet, dan hanya memakai softlens untuk event tertentu saja seperti kondangan atau acara spesial lain. Kebetulan bulan ini banyak banget undangan nikahan. Jadi aku memutuskan untuk beli softlens lagi. Walau hanya perintilan kecil aku ngerasa ini ngaruh banget untuk penampilanku keseluruhan. Meski baju dan dandanan udah cantik, kalau pakai kacamata tuh rasanya kurang perfect aja gitu.

Rekomendasi Dokter Kandungan dan Bidan di Bandung

Adakah yang nyasar ke blog ini karena sedang kebingungan nyari rekomendasi dokter kandungan? Kebingungan yang sama juga sempet aku rasain setahun yang lalu, di awal-awal kehamilanku. Apalagi sebagai pendatang di kota Bandung ini aku sama sekali nggak tau dokter kandungan mana yang bagus. Selama hamil aku selalu berpindah-pindah dokter, dengan hanya mengandalkan informasi dari Google. Positifnya aku jadi tau dokter kandungan mana yang memang benar-benar bagus atau setidaknya cocok denganku. Berikut beberapa di antaranya:

Silly Gilly Daily: Rekomendasi Bacaan untuk Para Introvert

Beberapa tahun ini buku dengan konsep full colour dengan gambar-gambar ilustrasi sedang naik daun. Ditandai dengan munculnya buku #88LOVELIFE karya fashion blogger Diana Rikasari dan ilustrator Dinda PS pada tahun 2015 (Kabarnya buku ini sempat ditolak oleh penerbit sebelum akhirnya menjadi buku best seller ). Hingga baru-baru ini muncul buku yang fenomenal banget, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (nkcthi) yang langsung terjual 5000 eksemplar di menit-menit pertamanya (Aku termasuk salah satu yang menunggu2 buku ini terbit. Sampai harus bolak balik ke toko buku karena selalu sold out ). Kehadiran buku berilustrasi semacam ini menurutku memberi dampak sangat positif sehingga masyarakat antusias datang ke toko buku. Padahal dari segi harga buku ini tidaklah murah. Orang yang tadinya nggak suka membaca mulai tertarik dengan buku karena ilustrasinya. Bagi yang memang hobi membaca, mereka jadi punya alternatif bacaan yang nggak cuma berisi tulisan aja.