Langsung ke konten utama

Perjalanan Menemukan Mimpi Kembali Setelah Punya Anak

Sejak kecil aku menyukai dunia seni dan hal-hal berbau kreatif. Cita-citaku, kalau nggak jadi penulis ya ilustrator (baca: My Passion Story  ) Berangkat dari hal itu, aku memilih jurusan seni sebagai pendidikan formalku.  Selama ini aku cukup idealis dan ambisius dalam mengejar sesuatu. Di sekolah aku termasuk murid berprestasi. Aku senang ikut berbagai kompetisi dan sering memenangkan penghargaan. Aku juga berhasil mendapatkan beasiswa di kampus ternama yang menjadi impian banyak orang. Lalu, setelah lulus aku bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan fashion, sesuatu yang memang aku inginkan selama ini.  Tapi semuanya terhenti sejak aku punya anak. Aku merasa kehilangan banyak hal. Tidak adanya pencapaian membuatku merasa " unworthy ". Bisa dibilang itu menjadi salah satu titik terendahku (baca:  Perjalanan Seorang Ibu Berdamai dengan Diri Sendiri  )  Namun, di saat bersamaan, seolah Tuhan ingin memberitahuku, bahwa hidup tidak sekedar mengejar nilai dan angka-an

Udah 'Isi' Belum?


Beberapa bulan yang lalu saat mengambil paklaring ke kantor lama, hampir semua orang yang kutemui menodongku dengan pertanyaan yang sama ‘udah isi belum’. Hal itu membuatku cukup shock. Maklum waktu itu masih pengantin baru, dan aku belum biasa menghadapi pertanyaan itu sebelumnya. Setelah terbebas dari pertanyaan ‘kapan nikah?' ternyata aku kembali dihadapkan dengan pertanyaan yang nggak kalah horor.  Emang sih kalo dipikir nggak akan pernah ada habisnya. Dulu waktu masih kuliah aku sering ditanya, ‘kapan lulus?’ Setelah lulus ditanya lagi, kapan nikah? Sekarang udah nikah pertanyaannya ganti, ‘kapan punya anak?’ Bahkan ada temenku yang udah punya anakpun masih juga ditanya, ‘kapan punya anak lagi?’ Padahal anaknya masih bayi banget, baru lahir. Nggak kebayang gimana repotnya kalau dia beneran punya anak lagi dalam waktu dekat. Dan pastinya orang-orang yang komentar itu nggak kan bantuin ngurusin anaknya juga. Saking keselnya sampai-sampai temenku itu ngomel-ngomel di sosmed. Hihii

Sampai sekarangpun setiap bertemu kerabat aku masih sering ditanya ‘udah isi belum’ atau dengan kalimat lain yang kurang lebih sama aja intinya. Seolah-olah itu menjadi pertanyaan wajib yang harus ditanyakan kepada pasangan yang baru menikah. Seolah-olah jalan hidup kita harus sesuai dengan 'umumnya masyarakat'.


Padahal nggak semua pasangan yang sudah menikah akan segera punya anak. Semua tergantung dengan kesiapan dan kondisi masing-masing pasangan, dan campur tangan Tuhan tentu saja. Yang tidak bisa disamakan satu dengan yang lain. Ada yang sengaja menunda karena alasan tertentu (seperti aku dan suami yang sengaja menunda selama setengah tahun di awal pernikahan kami karena pengen puas-puasin pacaran halal dulu). Ada juga pasangan yang memang sudah berusaha sampai bertahun-tahun, berdoa sepanjang malam, bahkan menghabiskan banyak uang untuk berobat kesana kemari, namun belum juga berhasil dikaruniai momongan. Atau malah, ada juga yang sudah pernah memiliki, namun Allah mengambilnya kembali sebelum sempat dilahirkan ke dunia. Kita nggak pernah tahu cerita dibalik itu. Apakah hal itu harus diumumkan ke semua orang? Kebayang nggak kesedihan yang mereka rasakan selama ini? Dan pertanyaan yang kita ajukan hanya akan memperparah kesedihan itu.

Sebenarnya aku sendiri nggak masalah jika pertanyaan itu datang dari keluarga atau teman dekat. Aku masih menganggap wajar jika mereka menunjukkan perhatiannya dengan cara tersebut. Malahan ada temenku yang sengaja menjadikannya sebagai bahan candaan setiap kali kami bertemu. Akupun nggak mempermasalahkannya, karena kami sudah berteman dekat. Yang jadi masalah adalah, seringkali pertanyaan itu juga datang dari orang-orang yang nggak begitu kukenal dekat, bertubi-tubi, yang tentunya membuatku terganggu. Apalagi kebanyakan cuma sekedar basa basi atau kepo.

“Loh, si anu baru nikah 2 bulan sekarang malah udah isi duluan.” Pernyataan semacam itu juga pernah mampir di telingaku.

Hey. Punya anak bukanlah sebuah perlombaan, siapa cepat dia yang menang. Bukan. Lagi pula untuk apa membanding-bandingkan seperti itu? Tidak bisakah kita iklas turut bahagia atas kebahagiaan yang dirasakan orang lain? Aku, meski sekarang udah nggak lagi menunda kehamilan, tapi juga nggak terlalu ngoyo berusaha. Aku masih sangat menikmati peran baruku sebagai seorang istri. Meski ada satu nikmat yang belum diberikan Tuhan untukku, tapi masih banyak hal lain yang bisa kusyukuri. Aku masih diberi kesehatan, rizki yang cukup sehingga aku bisa tetap makan 3x sehari, ada tempat berteduh, dan pakaian yang layak. Aku punya suami yang baik, yang kalau disebutkan satu persatu kebaikannya tidak akan pernah cukup kutulis di sini. Yang tak kalah penting, aku juga masih punya banyak waktu luang untuk berkarya sepuasnya, satu hal yang mungkin akan sulit kulakukan setelah punya bayi.

Aku percaya Tuhan akan memberikan yang terbaik diwaktu yang paling tepat menurutnya. Sebagian diberi rejeki berupa keturunan tak lama setelah menikah. Sebagian lagi diberi ujian kesabaran dan ujian syukur atas rizki lain yang Tuhan berikan. Semua itu karena Tuhan sayang kepada hamba-Nya.


Aku yakin banyak juga orang yang mengalami pengalaman yang sama sepertiku. Mungkin sekilas kelihatannya mereka menjawab pertanyaan dengan enteng, "belum, doain aja" atau "udah, isi cireng, gehu..., bla..bla..blaa" Tapi apakah kita tahu, dibalik jawaban-jawaban itu bisa jadi sudah banyak sekali sujud dan doa yang mereka panjatkan untuk segera memperoleh momongan. Begitu juga dengan usaha yang telah dilakukan. Apakah salah jika mereka tidak ingin membaginya pada orang lain. Banyak orang yang berikhtiar dalam diam, akan jauh lebih bijak jika kita turut mendoakannya dalam diam juga.

Kita harus belajar berempati. Tidak perlulah menanyakan hal-hal yang mereka sendiri tidak tahu jawabannya, karena itu masih menjadi rahasia Allah (termasuk pertanyaan kapan nikah, kapan punya anak lagi?). Toh, pada saatnya nanti orang-orang juga akan tahu dengan sendirinya (Masa iya, kehamilan akan diumpet-umpetin). Yah, itung-itung belajar lebih kreatif dikit. Masih banyak kok pertanyaan lain yang bisa diajukan. Jangan sampai pertanyaan kita yang maksudnya sekedar basa-basi justru menyakiti, membuat orang lain tidak nyaman, bahkan bersedih. Yang lebih penting lagi, jangan sampai kita mengusik apa yang belum orang lain milliki dan malah membuatnya tidak mensyukuri apa yang sudah dimilikinya. Setuju?

Komentar

  1. Setuju kak, aku pernah ngalamin pertanyaan kek gitu, yg nanya nya juga masi jomblo dan gak ngasih kado pas aku lahiran kwkwkwk

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Softlens New More Dubai (Honey Brown)

Sebagai penderita mata minus aku jarang banget memakai softlens. Aku lebih memilih pakai kacamata untuk sehari-hari karena nggak ribet, dan hanya memakai softlens untuk event tertentu saja seperti kondangan atau acara spesial lain. Kebetulan bulan ini banyak banget undangan nikahan. Jadi aku memutuskan untuk beli softlens lagi. Walau hanya perintilan kecil aku ngerasa ini ngaruh banget untuk penampilanku keseluruhan. Meski baju dan dandanan udah cantik, kalau pakai kacamata tuh rasanya kurang perfect aja gitu.

Silly Gilly Daily: Rekomendasi Bacaan untuk Para Introvert

Beberapa tahun ini buku dengan konsep full colour dengan gambar-gambar ilustrasi sedang naik daun. Ditandai dengan munculnya buku #88LOVELIFE karya fashion blogger Diana Rikasari dan ilustrator Dinda PS pada tahun 2015 (Kabarnya buku ini sempat ditolak oleh penerbit sebelum akhirnya menjadi buku best seller ). Hingga baru-baru ini muncul buku yang fenomenal banget, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (nkcthi) yang langsung terjual 5000 eksemplar di menit-menit pertamanya (Aku termasuk salah satu yang menunggu2 buku ini terbit. Sampai harus bolak balik ke toko buku karena selalu sold out ). Kehadiran buku berilustrasi semacam ini menurutku memberi dampak sangat positif sehingga masyarakat antusias datang ke toko buku. Padahal dari segi harga buku ini tidaklah murah. Orang yang tadinya nggak suka membaca mulai tertarik dengan buku karena ilustrasinya. Bagi yang memang hobi membaca, mereka jadi punya alternatif bacaan yang nggak cuma berisi tulisan aja.

Talk about Relationship

Ada sebuah buku menarik berjudul Eneagram karya Renee Baron dan Elizabeth Wagele. Yang berisi tentang 9 tipe kepribadian manusia. Selain memberi ulasan tentang masing-masing tipe, buku ini juga memberikan semacam test untuk mengetahui termasuk ke dalam tipe manakah kita. Beberapa waktu lalu aku dan suami sama-sama mencoba test tersebut dan hasilnya cukup mengejutkan. Point tertinggi yang kuperoleh ada pada tipe romantis. Sebaliknya di tipe ini suami mendapat point terendahnya. Dari situ akupun menyadari apa yang sering menjadi akar masalah kami selama ini, terutama di tahun-tahun awal kami bersama. Kami memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Aku sering merasa suami terlalu cuek, tidak perhatian dan tidak romantis. Sebaliknya, mungkin ia merasa kesal karena aku terlalu melankolis dan lebay. Lalu bagaimana akhirnya kami bisa bertahan dengan perbedaan tersebut? Jodoh bukan berarti harus 100% langsung cocok. Butuh proses panjang untuk itu. Karena pada dasarnya setiap orang memili