Langsung ke konten utama

Perjalanan Seorang Ibu Baru Berdamai dengan Diri Sendiri

Butuh waktu 3 tahun sampai aku bener-bener bisa menerima peran baruku sebagai ibu. Sebelumnya, aku cukup struggle dengan segala perubahan yang terjadi. Duniaku melambat. Aku yang selama ini ambisius tiba-tiba harus kehilangan apa yang selama ini kukejar. Karier, kebebasan, penghasilan dan juga mimpi-mimpiku. Aku ngerasa useless , nggak berharga, nggak berdaya sehingga aku marah ke diri sendiri. Aku juga ngerasa bersalah karena nggak mampu membahagiakan orang-orang yang kucintai. Kondisiku ini, kalau dilihat dari skala kesadaran manusia, berada pada level terendah, lebih rendah dibandingkan perasaan sedih, di mana orang-orang bisa sampai terpikir bunuh diri, itu karena dia udah ada pada level kesadaran tersebut. Untungnya, aku masih cukup waras untuk tidak melakukan hal-hal yang membahayakan. Meski begitu, aku selalu dilanda kecemasan hampir setiap saat. Desember 2021, bulan di mana anakku tepat berusia 3 tahun. Aku merasa bahwa yang terjadi denganku sudah sangat mengganggu. Sempet coba

Eksotisme Tersembunyi di Green Valley Citumang, Pangandaran

Apa yang pertama kali terlintas dalam benak kita ketika mendengar kata Pangandaran? Mungkin sebagian besar dari kita akan menjawab pantai. Yep, nggak salah sih. Pangandaran emang udah terkenal banget dengan pantainya. Tapi sebenarnya masih ada lho, potensi wisata lain di Pangandaran yang belum banyak terexpose dan nggak kalah indah. Salah satunya adalah wisata alam berupa sungai yang biasa disebut dengan Green Valley Citumang. Di sini kita bisa berpetualang menyusuri sungai (body rafting) sambil menikmati keindahan alam di sepanjang aliran sungai.

Nah, kali ini aku mau berbagi pengalaman ketika mengikuti body rafting bersama temen-temen sedivisi di kantorku. Udah agak lama sih, tepatnya setahun lalu, di bulan Mei 2017. Sebelumnya nggak pernah kebayang bakal ikutan wisata semacam ini. Biasanya sih, yang penting ada spot
cantik buat foto-foto aja udah cukup. Nggak terlalu suka wisata petualangan yang bikin capek kayak gini. Apa daya, aku kalah voting dari temen-temenku yang kebanyakan cowok (Emang udah kodratnya kali ya, kayaknya nggak mantap aja kalo nggak nyobain tantangan). Dari beberapa kandidat objek wisata yang ingin dikunjungi, akhirnya Citumanglah yang dipilih berdasarkan hasil voting terbanyak.


Dari yang semula nggak terlalu antusias, pikiranku langsung berubah ketika tiba di lokasi. Ngelihat aliran sungai yang jernih dan segar semangatku langsung terpacu. Sebelumnya kami berangkat dari pos menuju sungai menggunakan mobil bak terbuka yang sudah disediakan oleh guide. Kami juga sudah dibekali peralatan keamanan lengkap seperti jaket pelampung, helm dan sepatu karet. Perjalanan yang ditempuh tidaklah jauh, sekitar 15 menitan. Seru, apalagi sepanjang jalan temen-temen nggak berhenti ngelawak.

Sebelum benar-benar terjun ke sungai, kami dibrefing terlebih dulu oleh guide. Dengan begitu setidaknya kami tahu apa saja yang harus kami lakukan untuk menghadapi berbagai situasi di dalam air nantinya. Pesan dari guide yang terpenting adalah jangan panik. Karena pada dasarnya sungai ini aman selama peserta tetap bersikap baik dan mau mengikuti petunjuk dari guide. Kami juga diajak melakukan senam pemanasan terlebih dahulu untuk menghindari kram yang mungkin saja terjadi.

Barulah setelah itu kami berjalan menuruni bebatuan dan tanah yang cukup curam. Di sini kami harus sangat berhati-hati agar tidak terpeleset. Lalu satu persatu dari kami masuk ke dalam sungai yang dari jauh nampak biru kehijauan. Rasanya dingin dan segar. Pemandangan di sekitar sungai juga sangat indah dan terkesan masih alami.

Perlahan kamipun mulai menyusuri aliran sungai. Ternyata sungai ini memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Mulai dari yang dangkal hingga yang dalam. Ada yang arusnya deras, ada yang tenang, ada yang berbatu, ada juga yang tidak. Setiap tempat itu memiliki tantangannya masing-masing. Untunglah ada guide yang selalu mengarahkan kami. Sebelum memasuki tantangan berikutnya mereka selalu memastikan terlebih dulu tidak ada yang tertinggal diantara kami. Buatku yang paling gampang adalah tantangan melompat dari ketinggian. (Mungkin ada kali ya 3-5 meter) Ya iyalah soalnya aku kan nggak ikut loncat. Hihii... Aku emang rada-rada phobia sih sama ketinggian. (baca Our Hysteria (at Transtudio).) 


Selebihnya semua tantangan bisa kulewati dengan baik. Termasuk ketika harus terjun ke arus yang cukup deras. Ada juga tantangan yang nggak kalah bikin 'dugdugserr'. Aku sempet terseret arus dan lenganku tergores dasar sungai yang dangkal dan berbatu. Untung ada temen2 yang sigap narik tanganku. Nah, gini nih positifnya ikutan body rafting, apalagi sama temen-temen satu divisi. Kami bisa melatih kekompakan dan juga jiwa tolong-menolong dengan yang lain. Di mana hal itu sangat dibutuhkan di lingkungan kerja.  






Bagian yang paling favorite sih ketika kami melewati aliran sungai yang tenang, kami diminta membuat formasi lingkaran, dengan posisi tubuh menghadap ke langit. Di situ aku bisa melihat pemandangan pepohonan hijau yang menaungi kami, dan juga bebatuan tinggi yang selalu meneteskan air seperti gerimis. Damai banget rasanya. Dalam hati aku merasakan syukur yang luar biasa karena bisa melihat mahakarya Tuhan yang sangat indah.



Di tengah perjalanan kami sempat beristirahat di tepian sungai. Sebelumnya guide memang sudah memberitahukan bahwa nantinya ada 'alfamart' untuk kami bisa beristirahat sejenak. Bodohnya aku percaya aja. Mana ada alfamart di sungai kayak gitu. Ternyata 'alfamart' yang dimaksud adalah sebuah rumah sederhana di atas pohon. Kami bisa memesan mie, teh atau kopi hangat disitu. Di saat udah capek dan kedinginan, mie udah yang paling pas deh! Kami juga nggak perlu capek-capek naik ke atas karena pesanan akan diantarkan menggunakan kotak yang diikat dengan tali lalu diturunkan dari atas rumah pohon tersebut. Unik emang.


Setelah itu kami kembali meneruskan perjalanan. Pemandangan yang berbeda-beda membuat kami tidak merasa bosan sama sekali. Malahan waktu terasa begitu cepat. Tau-tau kami sudah harus mengakhirinya. Berbeda dengan ketika berangkat, kali ini kami dijemput menggunakan perahu. Kali ini kami melewati sungai yang luas, dengan tumbuhan payau di sekitarnya. (Sekilas kayak pemandangan di luar negeri. Tapi di mana yaa??)


Yaah, walaupun badan remuk redam setelahnya, bahkan hingga beberapa hari nggak hilang-hilang. Tapi aku nggak nyesel deh pokoknya. Dan nggak ada yang bisa ngegantiin pengalaman yang udah kudapat ini. Dari yang tadinya nggak suka, sekarang kalo ngelihat foto-fotonya rasanya pengen balik lagi deh ke Citumang. Yukk?


Komentar

  1. Wah bagus banget ya kak, belum pernah kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayoooo.. ajak dedek juga kl uda rada gedean

      Hapus
  2. Waaah seru banget! Ini pas weekday atau weekend? Dari dulu belum kesampaian mau ke sana. Abis keburu malas duluan begitu tahu bakal kayak cendol kalau ke sana pas weekend. Tapi ini kok kayaknya enak nggak terlalu ramai, ya. Jadi kepengen dah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enggak kok sis, aq ksana pas weekend lumayan sepi. Asal jangan long weekend atau musim liburan aja kali ya

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Softlens New More Dubai (Honey Brown)

Sebagai penderita mata minus aku jarang banget memakai softlens. Aku lebih memilih pakai kacamata untuk sehari-hari karena nggak ribet, dan hanya memakai softlens untuk event tertentu saja seperti kondangan atau acara spesial lain. Kebetulan bulan ini banyak banget undangan nikahan. Jadi aku memutuskan untuk beli softlens lagi. Walau hanya perintilan kecil aku ngerasa ini ngaruh banget untuk penampilanku keseluruhan. Meski baju dan dandanan udah cantik, kalau pakai kacamata tuh rasanya kurang perfect aja gitu.

Rekomendasi Dokter Kandungan dan Bidan di Bandung

Adakah yang nyasar ke blog ini karena sedang kebingungan nyari rekomendasi dokter kandungan? Kebingungan yang sama juga sempet aku rasain setahun yang lalu, di awal-awal kehamilanku. Apalagi sebagai pendatang di kota Bandung ini aku sama sekali nggak tau dokter kandungan mana yang bagus. Selama hamil aku selalu berpindah-pindah dokter, dengan hanya mengandalkan informasi dari Google. Positifnya aku jadi tau dokter kandungan mana yang memang benar-benar bagus atau setidaknya cocok denganku. Berikut beberapa di antaranya:

Silly Gilly Daily: Rekomendasi Bacaan untuk Para Introvert

Beberapa tahun ini buku dengan konsep full colour dengan gambar-gambar ilustrasi sedang naik daun. Ditandai dengan munculnya buku #88LOVELIFE karya fashion blogger Diana Rikasari dan ilustrator Dinda PS pada tahun 2015 (Kabarnya buku ini sempat ditolak oleh penerbit sebelum akhirnya menjadi buku best seller ). Hingga baru-baru ini muncul buku yang fenomenal banget, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (nkcthi) yang langsung terjual 5000 eksemplar di menit-menit pertamanya (Aku termasuk salah satu yang menunggu2 buku ini terbit. Sampai harus bolak balik ke toko buku karena selalu sold out ). Kehadiran buku berilustrasi semacam ini menurutku memberi dampak sangat positif sehingga masyarakat antusias datang ke toko buku. Padahal dari segi harga buku ini tidaklah murah. Orang yang tadinya nggak suka membaca mulai tertarik dengan buku karena ilustrasinya. Bagi yang memang hobi membaca, mereka jadi punya alternatif bacaan yang nggak cuma berisi tulisan aja.