Langsung ke konten utama

Perjalanan Menemukan Mimpi Kembali Setelah Punya Anak

Sejak kecil aku menyukai dunia seni dan hal-hal berbau kreatif. Cita-citaku, kalau nggak jadi penulis ya ilustrator (baca: My Passion Story  ) Berangkat dari hal itu, aku memilih jurusan seni sebagai pendidikan formalku.  Selama ini aku cukup idealis dan ambisius dalam mengejar sesuatu. Di sekolah aku termasuk murid berprestasi. Aku senang ikut berbagai kompetisi dan sering memenangkan penghargaan. Aku juga berhasil mendapatkan beasiswa di kampus ternama yang menjadi impian banyak orang. Lalu, setelah lulus aku bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan fashion, sesuatu yang memang aku inginkan selama ini.  Tapi semuanya terhenti sejak aku punya anak. Aku merasa kehilangan banyak hal. Tidak adanya pencapaian membuatku merasa " unworthy ". Bisa dibilang itu menjadi salah satu titik terendahku (baca:  Perjalanan Seorang Ibu Berdamai dengan Diri Sendiri  )  Namun, di saat bersamaan, seolah Tuhan ingin memberitahuku, bahwa hidup tidak sekedar mengejar nilai dan angka-an

Berwisata di Forest Walk Babakan Siliwangi




Jenuh dengan hiruk pikuk kota dan rutinitas sehari-hari? Kayaknya asyik yaa mengistirahatkan diri sejenak dengan menikmati hijaunya pemandangan alam dan udara yang segar. Tapi sayangnya nggak semua orang punya banyak waktu untuk itu.
Tapi sekarang bukan masalah lagi, khususnya untuk warga Bandung, karena sekarang udah ada wisata alam di tengah-tengah kota. Namanya Forest Walk, yang baru banget di resmikan tanggal 17 Januari 2018 kemarin.
Tempat ini merupakan hutan kota yang dibuat dengan konsep menarik. Setiap pengunjung bisa berkeliling hutan melewati jembatan kayu yang membentang di sepanjang hutan. Nggak perlu takut nyasar meski kita telah berkelilingi hutan karena jembatan tersebut dibuat satu jalur menghubungkan jalan masuk dan keluar, kita cukup mengikuti alurnya saja.




Tempat ini mudah sekali dijangkau. Terletak di daerah Babakan Siliwangi, dekat Sabuga ITB. Cocok dijadikan alternatif liburan di akhir pekan. Apalagi untuk yang nggak sempet berwisata ke tempat yang jauh karena waktu libur yang mepet. Mau dateng pas tanggal tua juga nggak masalah. Untuk masuk ke sini kita nggak akan dipungut biaya sepeserpun alias gratis. (Paling cuma bayar parkir doang)
Minggu kemarin akhirnya aku kesampaian juga datang ke sini, nyobain jalan-jalan di jembatan kayu yang selama ini cuma bisa kulihat wara wiri di timeline instagram. Meskipun kelihatan kecil tapi ternyata cukup capek juga berkeliling hutan. Sayangnya waktu aku ke sini pengunjung sedang ramai-ramainya. Maklum weekend. Plus aku datengnya siang jadi udaranya udah nggak begitu seger. (Posisinya persis di samping jalan raya jadi walaupun banyak pohon tetep aja gk sepenuhnya bebas dari polusi)
Aku saranin bagi temen-temen yang ingin ke sini lebih baik pagi-pagi aja yaa. Dan pliisss banget jangan merokok di tempat ini. Kasihan orang-orang yang sengaja dateng untuk menikmati udara segar jadi keganggu karenanya.


Berkunjung ke tempat ini bikin aku ngrasa bersyukur bisa menghabiskan masa kecil di kampung. Dulu nggak pernah mikir, setiap hari bisa menghirup udara yang sejuk dan segar. Pengen lihat pemandangan hijau tinggal buka jendela atau jalan-jalan ke bukit di belakang rumah. Menemukan hutan di tengah kota seperti ini rasanya seperti menemukan oase di tengah gurun pasir (cheee.. kayak pernah ke gurun aja) Yaa, meskipun udaranya masih kalah seger dibanding udara di kampung halaman. Aku tetep salut sama pemkot Bandung yang udah menghadirkan tempat wisata murah meriah ini untuk masyarakat.


Satu hal aja yang kurang. Beberapa kali aku menemukan lubang lubang kecil di lantai kayunya. Bagi orang dewasa mungkin hal itu nggak masalah. Tapi di sini banyak sekali anak kecil lari-larian. Ngeri aja kalo kakinya sampe 'njeblos' ke situ. Mudah-mudahan pihak yang berwenang bisa segera memperbaikinya.

Komentar

  1. Wah udah jadi ya, waktu hamil 7 bulan jalan kesana hehe iya banyak orang ga bertanggung jawab apalagi di jembatan belakang halte

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmmmhh..padahal udah dikasih fasilitas sekeren ini, tinggal gimana warganya harus pinter-pinter ngejaga

      Hapus
  2. tempat wisata baru di Bandung bagus2 yah kak,pengen banget maen kesana.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Softlens New More Dubai (Honey Brown)

Sebagai penderita mata minus aku jarang banget memakai softlens. Aku lebih memilih pakai kacamata untuk sehari-hari karena nggak ribet, dan hanya memakai softlens untuk event tertentu saja seperti kondangan atau acara spesial lain. Kebetulan bulan ini banyak banget undangan nikahan. Jadi aku memutuskan untuk beli softlens lagi. Walau hanya perintilan kecil aku ngerasa ini ngaruh banget untuk penampilanku keseluruhan. Meski baju dan dandanan udah cantik, kalau pakai kacamata tuh rasanya kurang perfect aja gitu.

Silly Gilly Daily: Rekomendasi Bacaan untuk Para Introvert

Beberapa tahun ini buku dengan konsep full colour dengan gambar-gambar ilustrasi sedang naik daun. Ditandai dengan munculnya buku #88LOVELIFE karya fashion blogger Diana Rikasari dan ilustrator Dinda PS pada tahun 2015 (Kabarnya buku ini sempat ditolak oleh penerbit sebelum akhirnya menjadi buku best seller ). Hingga baru-baru ini muncul buku yang fenomenal banget, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (nkcthi) yang langsung terjual 5000 eksemplar di menit-menit pertamanya (Aku termasuk salah satu yang menunggu2 buku ini terbit. Sampai harus bolak balik ke toko buku karena selalu sold out ). Kehadiran buku berilustrasi semacam ini menurutku memberi dampak sangat positif sehingga masyarakat antusias datang ke toko buku. Padahal dari segi harga buku ini tidaklah murah. Orang yang tadinya nggak suka membaca mulai tertarik dengan buku karena ilustrasinya. Bagi yang memang hobi membaca, mereka jadi punya alternatif bacaan yang nggak cuma berisi tulisan aja.

Talk about Relationship

Ada sebuah buku menarik berjudul Eneagram karya Renee Baron dan Elizabeth Wagele. Yang berisi tentang 9 tipe kepribadian manusia. Selain memberi ulasan tentang masing-masing tipe, buku ini juga memberikan semacam test untuk mengetahui termasuk ke dalam tipe manakah kita. Beberapa waktu lalu aku dan suami sama-sama mencoba test tersebut dan hasilnya cukup mengejutkan. Point tertinggi yang kuperoleh ada pada tipe romantis. Sebaliknya di tipe ini suami mendapat point terendahnya. Dari situ akupun menyadari apa yang sering menjadi akar masalah kami selama ini, terutama di tahun-tahun awal kami bersama. Kami memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Aku sering merasa suami terlalu cuek, tidak perhatian dan tidak romantis. Sebaliknya, mungkin ia merasa kesal karena aku terlalu melankolis dan lebay. Lalu bagaimana akhirnya kami bisa bertahan dengan perbedaan tersebut? Jodoh bukan berarti harus 100% langsung cocok. Butuh proses panjang untuk itu. Karena pada dasarnya setiap orang memili