Langsung ke konten utama

Perjalanan Menemukan Mimpi Kembali Setelah Punya Anak

Sejak kecil aku menyukai dunia seni dan hal-hal berbau kreatif. Cita-citaku, kalau nggak jadi penulis ya ilustrator (baca: My Passion Story  ) Berangkat dari hal itu, aku memilih jurusan seni sebagai pendidikan formalku.  Selama ini aku cukup idealis dan ambisius dalam mengejar sesuatu. Di sekolah aku termasuk murid berprestasi. Aku senang ikut berbagai kompetisi dan sering memenangkan penghargaan. Aku juga berhasil mendapatkan beasiswa di kampus ternama yang menjadi impian banyak orang. Lalu, setelah lulus aku bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan fashion, sesuatu yang memang aku inginkan selama ini.  Tapi semuanya terhenti sejak aku punya anak. Aku merasa kehilangan banyak hal. Tidak adanya pencapaian membuatku merasa " unworthy ". Bisa dibilang itu menjadi salah satu titik terendahku (baca:  Perjalanan Seorang Ibu Berdamai dengan Diri Sendiri  )  Namun, di saat bersamaan, seolah Tuhan ingin memberitahuku, bahwa hidup tidak sekedar mengejar nilai dan angka-an

(Review) Launching Buku Naela Ali Story for Rainy Days vol. 3


Hari rabu kemarin, di sore hari yang sedikit mendung, aku berkesempatan menghadiri acara launching buku Naela Ali berjudul Story for Rainy Days Volume 3 di Srunding Cafe, Bandung. Sejak jauh hari aku memang sudah merencanakan untuk datang ke acara tersebut. Aku beruntung karena dari 3 kota yang menjadi tempat diadakannya launching, Bandung menjadi salah satunya.

Sudah beberapa tahun terakhir aku menjadi follower setia instagram @naelaali dan selalu mengikuti perkembangan karya-karyanya. Bagi yang belum tau, Naela Ali ini adalah seorang illustrator sekaligus penulis lulusan Universitas Binus jurusan Desain Komunikasi Visual. Walaupun saat kuliah ia lebih banyak berkutat dengan komputer rupanya ketertarikannya justru lebih besar pada gambar manual. Itulah yang akhirnya ia tekuni hingga sekarang.


Dalam berkarya ia memiliki ciri khas yang kuat, antara lain goresan cat air dengan warna-warna lembut. Karakter manusia menjadi objek yang sering digambarnya. Selain itu Naela juga senang menggambar hal-hal yang berbau Jepang. Terbukti dari banyak karya yang sering diuploadnya di instagram. Hingga kini followers instagramnya sudah mencapai puluhan ribu.

Bicara tentang buku yang dilaunching. Story for Rainy Days ini adalah buku seri ketiga yang ditulisnya. Sama seperti buku sebelumnya, buku ke 3 ini juga menyuguhkan cerita tentang relationship yang diselingi dengan illustrasi. Dengan konsep seperti diary, Naela mengungkapkan berbagai perasaannya, baik cinta maupun patah hati. Setiap kata mengalir dengan indah, lembut, jujur dan personal. Seperti secangkir coklat hangat yang dinikmati saat hujan, buku ini mampu menumbuhkan perasaan hangat dan bahagia bagi siapapun yang membacanya. Selain itu banyak tulisannya yang mampu mewakili perasaan pembaca.





Sedikit yang kurang dari buku ini hanyalah illustrasinya. Bukan berarti tidak bagus. Naela tetap tampil dengan ciri khas seperti biasa, hanya saja illustrasi di buku ini lebih minimalis dan kurang variatif jika dibandingkan dengan seri sebelumnya. Illustrasi didominasi oleh karakter realis manusia. Tidak ada lagi karakter semi kartun seperti di buku yang kedua.

Btw, aku belajar banyak dari acara meet and great kemarin. Terlihat bahwa Naela sangat mencintai apa yang ia kerjakan. Baik itu menggambar maupun menulis. Ia juga berpesan bahwa segala sesuatu yang dikerjakan harus didasari dengan cinta dan passion. Dengan begitu ide-ide akan lebih mudah mengalir. Tidak usah mempedulikan tanggapan negatif orang lain.Toh kita tidak bisa menyenangkan semua orang.  Yang terpenting dalam berkarya adalah jujur pada diri sendiri dan mencintai apa yang kita kerjakan.


Selain jago menggambar, ternyata Naela Ali juga sosok yang ramah dan humble. Selamat atas peluncuran bukunya. Mudah-mudahan next time bisa ketemu lagi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Softlens New More Dubai (Honey Brown)

Sebagai penderita mata minus aku jarang banget memakai softlens. Aku lebih memilih pakai kacamata untuk sehari-hari karena nggak ribet, dan hanya memakai softlens untuk event tertentu saja seperti kondangan atau acara spesial lain. Kebetulan bulan ini banyak banget undangan nikahan. Jadi aku memutuskan untuk beli softlens lagi. Walau hanya perintilan kecil aku ngerasa ini ngaruh banget untuk penampilanku keseluruhan. Meski baju dan dandanan udah cantik, kalau pakai kacamata tuh rasanya kurang perfect aja gitu.

Silly Gilly Daily: Rekomendasi Bacaan untuk Para Introvert

Beberapa tahun ini buku dengan konsep full colour dengan gambar-gambar ilustrasi sedang naik daun. Ditandai dengan munculnya buku #88LOVELIFE karya fashion blogger Diana Rikasari dan ilustrator Dinda PS pada tahun 2015 (Kabarnya buku ini sempat ditolak oleh penerbit sebelum akhirnya menjadi buku best seller ). Hingga baru-baru ini muncul buku yang fenomenal banget, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (nkcthi) yang langsung terjual 5000 eksemplar di menit-menit pertamanya (Aku termasuk salah satu yang menunggu2 buku ini terbit. Sampai harus bolak balik ke toko buku karena selalu sold out ). Kehadiran buku berilustrasi semacam ini menurutku memberi dampak sangat positif sehingga masyarakat antusias datang ke toko buku. Padahal dari segi harga buku ini tidaklah murah. Orang yang tadinya nggak suka membaca mulai tertarik dengan buku karena ilustrasinya. Bagi yang memang hobi membaca, mereka jadi punya alternatif bacaan yang nggak cuma berisi tulisan aja.

Talk about Relationship

Ada sebuah buku menarik berjudul Eneagram karya Renee Baron dan Elizabeth Wagele. Yang berisi tentang 9 tipe kepribadian manusia. Selain memberi ulasan tentang masing-masing tipe, buku ini juga memberikan semacam test untuk mengetahui termasuk ke dalam tipe manakah kita. Beberapa waktu lalu aku dan suami sama-sama mencoba test tersebut dan hasilnya cukup mengejutkan. Point tertinggi yang kuperoleh ada pada tipe romantis. Sebaliknya di tipe ini suami mendapat point terendahnya. Dari situ akupun menyadari apa yang sering menjadi akar masalah kami selama ini, terutama di tahun-tahun awal kami bersama. Kami memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Aku sering merasa suami terlalu cuek, tidak perhatian dan tidak romantis. Sebaliknya, mungkin ia merasa kesal karena aku terlalu melankolis dan lebay. Lalu bagaimana akhirnya kami bisa bertahan dengan perbedaan tersebut? Jodoh bukan berarti harus 100% langsung cocok. Butuh proses panjang untuk itu. Karena pada dasarnya setiap orang memili