Langsung ke konten utama

Perjalanan Menemukan Mimpi Kembali Setelah Punya Anak

Sejak kecil aku menyukai dunia seni dan hal-hal berbau kreatif. Cita-citaku, kalau nggak jadi penulis ya ilustrator (baca: My Passion Story  ) Berangkat dari hal itu, aku memilih jurusan seni sebagai pendidikan formalku.  Selama ini aku cukup idealis dan ambisius dalam mengejar sesuatu. Di sekolah aku termasuk murid berprestasi. Aku senang ikut berbagai kompetisi dan sering memenangkan penghargaan. Aku juga berhasil mendapatkan beasiswa di kampus ternama yang menjadi impian banyak orang. Lalu, setelah lulus aku bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan fashion, sesuatu yang memang aku inginkan selama ini.  Tapi semuanya terhenti sejak aku punya anak. Aku merasa kehilangan banyak hal. Tidak adanya pencapaian membuatku merasa " unworthy ". Bisa dibilang itu menjadi salah satu titik terendahku (baca:  Perjalanan Seorang Ibu Berdamai dengan Diri Sendiri  )  Namun, di saat bersamaan, seolah Tuhan ingin memberitahuku, bahwa hidup tidak sekedar mengejar nilai dan angka-an

My Wedding Story


Finnaly i got married! Sebenarnya target menikahku sudah lewat beberapa tahun lalu. Jadi di tahun 2017 aku justru tidak begitu memikirkan target menikah lagi. Aku sudah berada di titik paling lelah untuk berharap. Hubunganku dengan Totong sudah berjalan selama 12 tahun, sejak kami sama-sama masih duduk di bangku SMA. Namun sampai saat itu Totong belum juga memberikan kepastian tentang tentang kelanjutan hubungan kami. Aku sudah pasrah dan hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan yang terbaik, di waktu yang tepat menurutNya. Aku mencoba menikmati hidup yang saat itu sedang kujalani. Berkumpul bersama teman-teman, menikmati pekerjaanku. Toh, nantinya kalau sudah menikah belum tentu aku bisa seperti itu. Tapi siapa sangka, Tuhan sudah menyiapkan rencana lain. Di tahun tersebut kejutan demi kejutan manis kudapatkan.


27 Februari 2017
Hari itu tepat hari ulang tahunku yang ke-27. Aku mendapat sebuah kiriman bunga dari Totong yang dialamatkan ke kantorku. Ini adalah moment pertama kalinya ia memberiku bunga. Ini juga moment pertama, akhirnya aku sadar dibalik sikap cueknya selama ini ternyata Totong sungguh-sungguh mencintaiku. (Baca: http://isykasyukriya.blogspot.co.id/2017/12/talk-about-relationship.html#more )

Karena kesibukan kerja, kami baru bisa bertemu di akhir pekan untuk merayakan ulang tahunku. Kami memilih sebuah cafe di daerah Ranca Kendal, Bandung untuk makam malam berdua. Di situlah, ketika akan pulang, tiba-tiba Totong mengeluarkan sebuah cincin dan memberikannya padaku. Rasanya terharu dan hampir nggak percaya. Aku dilamar! Memang nggak dengan perkataan langsung. Dia hanya mengatakan, bahwa dia menitipkan cicin itu untuk maharku nanti.


Rupanya selama ini diam-diam dia sudah mempersiapkannya. Hanya saja ia menunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya denganku. Sejak hari itu, Totong mulai terbuka. Rasanya aneh, kami biasa ngobrol ngalor ngidul tentang sekolah, tugas kampus, kerjaan kantor sekarang tiba-tiba jadi sering ngomongin rencana pernikahan.

Hari ketiga setelah lebaran Totong datang ke rumah bersama keluarganya. Di luar perkiraanku, niat yang tadinya hanya untuk perkenalan keluarga, ternyata dia langsung melamarku hari itu juga. Aku merasa Tuhan begitu mendukung kami. Segala sesuatu dia permudah. Keluargaku langsung setuju. Malah kami diminta untuk tidak menunda-nunda pernikahan.



17 Juli 2017
Tanggal pernikahan sudah ditentukan. Sebulan sesudah lamaran, aku dan Totong kembali pulang ke Jogja untuk mengurus segala keperluan pernikahan kami. Hari itu, rencananya kami akan fitting baju dan rapat dengan WO. Keluarga dari kedua belah pihak juga hadir.

Saat itulah ibu menyampaikan keinginannya, ehem., lebih tepatnya 'memaksa' kami untuk menikah secara siri hari itu juga. Alasannya agar kami bisa leluasa mengurus segala persiapan pernikahan kami berdua. Selain itu agar kedua orang tua kami lebih tenang melepas kami ke Bandung lagi. Sebenarnya bukan hal aneh di keluargaku. Orang tuaku adalah penganut Islam yang taat. Prinsipnya adalah, jika ada pasangan yang sudah serius ingin menikah, lebih baik disegerakan, meski baru dengan pernikahan siri. (Karena untuk menikah secara resmi negara pasti membutuhkan waktu yang lebih lama. Belum lagi kalau pakai acara resepsi) Tapi tetap saja, rasanya seperti kesambar petir di siang bolong. Tentu aku ingin menikah dengan Totong. Tapi tidak dengan cara dipaksa dan mendadak begini.

Aku sudah pasrah. Selama ini, aku sudah banyak berhutang budi kepada orangtuaku. Satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah menuruti permintaan mereka. Sekarang semua keputusan ada di tangan Totong. Aku tahu tidak mudah baginya. Apalagi ia baru diberitahu setelah sampai di rumahku, beberapa menit sebelum akad berlangsung! Tapi lagi-lagi Totong menunjukan kesungguhannya Ia menyanggupi permintaan kedua orangtuaku. Dengan wajah tegang, ia mengucapkan ijab kabul di depan keluarga kami. Cincin yang dia berikan di hari ulang tahunku menjadi maharnya.

Acara ijab kabul berlangsung sederhana
Jika orang lain berdebar-debar menjelang hari pernikahannya, maka tidak denganku. Aku bahkan tidak merasakan kesakralan pernikahanku sendiri. Bayangkan saja bagaimana rasanya tiba-tiba didorong dari air terjun yang tinggi, kurang lebih seperti itulah yang kurasakan. Tapi bukan berarti aku tidak bahagia. Bahagia baru muncul perlahan-lahan setelah aku menyadari aku sudah menikah.

Teman-teman kantorku belum ada yang tahu tentang pernikahanku. Hanya pada seorang teman aku bercerita. Aku tidak tahu bagaimana cara mengumumkannya pada teman-temanku. Aku sendiri masih merasa aneh dan tidak percaya dengan pernikahanku sendiri. Dua hari sebelumnya aku hanya ijin pada atasan untuk pulang ke Jogja mengurus surat-surat nikah. Sekarang aku kembali ke Bandung sudah dengan status yang berbeda. Aku tidak peduli dengan pandangan orang-orang tentang diriku. Apalagi selama ini menikah siri dipandang tabu oleh masyarakat. Yang penting aku tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agama.

Lucunya setelah menikah kami tetap tinggal sendiri-sendiri. Orang tua menyarankan sebaiknya aku jangan hamil dulu sebelum resmi nikah secara negara. Karena kalau nanti punya anak, akan susah mengurus administrasinya. Aku sendiri masih ingin memuaskan diri untuk me time, begitupun dengan suami. Kami sama-sama tidak keberatan tinggal masing-masing dulu. Jadilah awal-awal pernikahan kami jalani dengan 'LDR'.

10 September 2017
Selanjutnya kami disibukan dengan persiapan pernikahan. Kami sepakat untuk membuat pesta resepsi yang sederhana dengan tidak mengundang banyak orang. Bagi kami yang terpenting adalah kehidupan setelah menikah. Lagipula, daripada menghabiskan uang untuk resepsi, mending digunakan untuk honeymoon.

Meski sederhana dan ada WO yang membantu, ternyata prakteknya tidak sesimple yang kami bayangkan. Apalagi kami harus mengurusnya dari jauh, Bandung-Jogja. Beberapa juga kami persiapkan sendiri, seperti undangan, dan souvenir.

Waktu 3 bulan berlalu begitu cepat. Tibalah hari pernikahan kami. Untuk kedua kalinya Totong kembali mengucapkan ijab kabul. Kali ini dihadapan penghulu dan dengan disaksikan para tamu undangan. Kamipun resmi menikah secara negara.


Acara kemudian berlanjut dengan resepsi dan boyongan di hari yang sama hingga sore harinya. Semua berjalan lancar. Rasa lelah dari pagi (bahkan sejak beberapa hari sebelumnya) pun tergantikan dengan perasaan lega dan bahagia. 






Sebenarnya aku pengen cerita awal perjalananku dengan Totong hingga sekarang. Ada banyak hal menarik yang kami lewati bersama. Tapi sabar dulu ya. Aku pengen menceritakannya dalam bentuk buku nantinya, sekarang masih on progress. Doain yaa.., mudah-mudahan bisa selesai tahun ini... amiiin.

Komentar

  1. Aamiin, subhanallah kak aku terharu bacanya 😍selamat ya bahagia dunia akhirat 😍

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Softlens New More Dubai (Honey Brown)

Sebagai penderita mata minus aku jarang banget memakai softlens. Aku lebih memilih pakai kacamata untuk sehari-hari karena nggak ribet, dan hanya memakai softlens untuk event tertentu saja seperti kondangan atau acara spesial lain. Kebetulan bulan ini banyak banget undangan nikahan. Jadi aku memutuskan untuk beli softlens lagi. Walau hanya perintilan kecil aku ngerasa ini ngaruh banget untuk penampilanku keseluruhan. Meski baju dan dandanan udah cantik, kalau pakai kacamata tuh rasanya kurang perfect aja gitu.

Silly Gilly Daily: Rekomendasi Bacaan untuk Para Introvert

Beberapa tahun ini buku dengan konsep full colour dengan gambar-gambar ilustrasi sedang naik daun. Ditandai dengan munculnya buku #88LOVELIFE karya fashion blogger Diana Rikasari dan ilustrator Dinda PS pada tahun 2015 (Kabarnya buku ini sempat ditolak oleh penerbit sebelum akhirnya menjadi buku best seller ). Hingga baru-baru ini muncul buku yang fenomenal banget, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (nkcthi) yang langsung terjual 5000 eksemplar di menit-menit pertamanya (Aku termasuk salah satu yang menunggu2 buku ini terbit. Sampai harus bolak balik ke toko buku karena selalu sold out ). Kehadiran buku berilustrasi semacam ini menurutku memberi dampak sangat positif sehingga masyarakat antusias datang ke toko buku. Padahal dari segi harga buku ini tidaklah murah. Orang yang tadinya nggak suka membaca mulai tertarik dengan buku karena ilustrasinya. Bagi yang memang hobi membaca, mereka jadi punya alternatif bacaan yang nggak cuma berisi tulisan aja.

Talk about Relationship

Ada sebuah buku menarik berjudul Eneagram karya Renee Baron dan Elizabeth Wagele. Yang berisi tentang 9 tipe kepribadian manusia. Selain memberi ulasan tentang masing-masing tipe, buku ini juga memberikan semacam test untuk mengetahui termasuk ke dalam tipe manakah kita. Beberapa waktu lalu aku dan suami sama-sama mencoba test tersebut dan hasilnya cukup mengejutkan. Point tertinggi yang kuperoleh ada pada tipe romantis. Sebaliknya di tipe ini suami mendapat point terendahnya. Dari situ akupun menyadari apa yang sering menjadi akar masalah kami selama ini, terutama di tahun-tahun awal kami bersama. Kami memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Aku sering merasa suami terlalu cuek, tidak perhatian dan tidak romantis. Sebaliknya, mungkin ia merasa kesal karena aku terlalu melankolis dan lebay. Lalu bagaimana akhirnya kami bisa bertahan dengan perbedaan tersebut? Jodoh bukan berarti harus 100% langsung cocok. Butuh proses panjang untuk itu. Karena pada dasarnya setiap orang memili