Langsung ke konten utama

Perjalanan Menemukan Mimpi Kembali Setelah Punya Anak

Sejak kecil aku menyukai dunia seni dan hal-hal berbau kreatif. Cita-citaku, kalau nggak jadi penulis ya ilustrator (baca: My Passion Story  ) Berangkat dari hal itu, aku memilih jurusan seni sebagai pendidikan formalku.  Selama ini aku cukup idealis dan ambisius dalam mengejar sesuatu. Di sekolah aku termasuk murid berprestasi. Aku senang ikut berbagai kompetisi dan sering memenangkan penghargaan. Aku juga berhasil mendapatkan beasiswa di kampus ternama yang menjadi impian banyak orang. Lalu, setelah lulus aku bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan fashion, sesuatu yang memang aku inginkan selama ini.  Tapi semuanya terhenti sejak aku punya anak. Aku merasa kehilangan banyak hal. Tidak adanya pencapaian membuatku merasa " unworthy ". Bisa dibilang itu menjadi salah satu titik terendahku (baca:  Perjalanan Seorang Ibu Berdamai dengan Diri Sendiri  )  Namun, di saat bersamaan, seolah Tuhan ingin memberitahuku, bahwa hidup tidak sekedar mengejar nilai dan angka-an

Mencicipi Kuliner Khas Sunda di Warung Nasi Bu Imas

Buat kamu penyuka sambal, rasanya wajib banget nyobain makanan khas sunda yang satu ini, namanya Warung Nasi Bu Imas. Terletak di Jalan Pungkur, Bandung. Meskipun tempatnya kelihatan sederhana, namun selalu ramai pengunjung. Dan konon, warung ini sudah lama berdiri dan cukup tersohor di kota Bandung.
Aku sendiri baru sekali nyobain makan di warung nasi bu Imas ini. Berawal dari rasa lapar yang melanda di perjalanan menuju daerah jalan peta.  Suami merekomendasikan tempat itu dan langsung kusetujui. Kebetulan udah lama pengen makan makanan sunda. Apalagi katanya sambalnya mantap banget.

Saat itu aku datang ke sekitar pukul 7 malam. Pengunjung sedang banyak-banyaknya. Banyak yang nggak dapat tempat duduk dan harus rela menunggu dengan berdiri. Begitupun dengan kami. Namun semua itu terbayar lunas begitu kami memperoleh tempat duduk dan pesanan kami datang tak lama kemudian.




Ada banyak menu khas penyetan di sini. Aku memilih memesan ayam bakar. Satu porsinya terdiri dari nasi, potongan ayam bakar, lalapan, sambal dadak dan sambal leunca. Ayam bakarnya manis. Cocok dengan sambel dadak dengan rasa terasi yang memang mantap. Tapi jangan kebanyakan ngambil sambelnya ya. Karna cocol sedikit aja udah bikin kepedesan. Ada lagi sambal leunca. Mungkin tidak semua suka sambal khas sunda yang satu ini-termasuk aku- karena rasanya pahit.



Aku nggak tau gimana pengunjungnya di jam-jam biasa apakah seramai ini atau tidak. Tapi sebaiknya kalau ke sini hindari jam makan siang atau makan malam agar nggak ngantri lama. O iya, kalau ternyata tempatnya penuh, kita bisa nyoba ke seberang jalan. Karena di seberang masih ada cabang warung bu Imas yang lain. Menu dan rasanya sama aja kok. Jadi, selamat mencoba.  

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Softlens New More Dubai (Honey Brown)

Sebagai penderita mata minus aku jarang banget memakai softlens. Aku lebih memilih pakai kacamata untuk sehari-hari karena nggak ribet, dan hanya memakai softlens untuk event tertentu saja seperti kondangan atau acara spesial lain. Kebetulan bulan ini banyak banget undangan nikahan. Jadi aku memutuskan untuk beli softlens lagi. Walau hanya perintilan kecil aku ngerasa ini ngaruh banget untuk penampilanku keseluruhan. Meski baju dan dandanan udah cantik, kalau pakai kacamata tuh rasanya kurang perfect aja gitu.

Silly Gilly Daily: Rekomendasi Bacaan untuk Para Introvert

Beberapa tahun ini buku dengan konsep full colour dengan gambar-gambar ilustrasi sedang naik daun. Ditandai dengan munculnya buku #88LOVELIFE karya fashion blogger Diana Rikasari dan ilustrator Dinda PS pada tahun 2015 (Kabarnya buku ini sempat ditolak oleh penerbit sebelum akhirnya menjadi buku best seller ). Hingga baru-baru ini muncul buku yang fenomenal banget, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (nkcthi) yang langsung terjual 5000 eksemplar di menit-menit pertamanya (Aku termasuk salah satu yang menunggu2 buku ini terbit. Sampai harus bolak balik ke toko buku karena selalu sold out ). Kehadiran buku berilustrasi semacam ini menurutku memberi dampak sangat positif sehingga masyarakat antusias datang ke toko buku. Padahal dari segi harga buku ini tidaklah murah. Orang yang tadinya nggak suka membaca mulai tertarik dengan buku karena ilustrasinya. Bagi yang memang hobi membaca, mereka jadi punya alternatif bacaan yang nggak cuma berisi tulisan aja.

Talk about Relationship

Ada sebuah buku menarik berjudul Eneagram karya Renee Baron dan Elizabeth Wagele. Yang berisi tentang 9 tipe kepribadian manusia. Selain memberi ulasan tentang masing-masing tipe, buku ini juga memberikan semacam test untuk mengetahui termasuk ke dalam tipe manakah kita. Beberapa waktu lalu aku dan suami sama-sama mencoba test tersebut dan hasilnya cukup mengejutkan. Point tertinggi yang kuperoleh ada pada tipe romantis. Sebaliknya di tipe ini suami mendapat point terendahnya. Dari situ akupun menyadari apa yang sering menjadi akar masalah kami selama ini, terutama di tahun-tahun awal kami bersama. Kami memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Aku sering merasa suami terlalu cuek, tidak perhatian dan tidak romantis. Sebaliknya, mungkin ia merasa kesal karena aku terlalu melankolis dan lebay. Lalu bagaimana akhirnya kami bisa bertahan dengan perbedaan tersebut? Jodoh bukan berarti harus 100% langsung cocok. Butuh proses panjang untuk itu. Karena pada dasarnya setiap orang memili