Langsung ke konten utama

Perjalanan Menemukan Mimpi Kembali Setelah Punya Anak

Sejak kecil aku menyukai dunia seni dan hal-hal berbau kreatif. Cita-citaku, kalau nggak jadi penulis ya ilustrator (baca: My Passion Story  ) Berangkat dari hal itu, aku memilih jurusan seni sebagai pendidikan formalku.  Selama ini aku cukup idealis dan ambisius dalam mengejar sesuatu. Di sekolah aku termasuk murid berprestasi. Aku senang ikut berbagai kompetisi dan sering memenangkan penghargaan. Aku juga berhasil mendapatkan beasiswa di kampus ternama yang menjadi impian banyak orang. Lalu, setelah lulus aku bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan fashion, sesuatu yang memang aku inginkan selama ini.  Tapi semuanya terhenti sejak aku punya anak. Aku merasa kehilangan banyak hal. Tidak adanya pencapaian membuatku merasa " unworthy ". Bisa dibilang itu menjadi salah satu titik terendahku (baca:  Perjalanan Seorang Ibu Berdamai dengan Diri Sendiri  )  Namun, di saat bersamaan, seolah Tuhan ingin memberitahuku, bahwa hidup tidak sekedar mengejar nilai dan angka-an

Best Book of the Year 2017

Belakangan buku terlihat lebih menggiurkan dibanding diskonan baju atau makanan enak. Bedanya dengan makanan enak yang dimakan sedikit demi sedikit agar kelezatannya tidak cepat habis, kalau buku semakin bagus akan semakin cepat kulahap. Anehnya, bukannya kenyang, aku justru semakin lapar. Akhirnya aku membeli buku lagi dan lagi. Begitu seterusnya, seperti lingkaran yang tidak pernah habis.
Menjalani hari-hari di rumah dan jarang ke mana-mana, buku telah menjadi sahabat karibku dan menyelamatkan hidupku dari kebosanan. Nah, sebagai bentuk apresiasi,kebetulan momentnya juga pas di akhir tahun, kali ini aku akan ngerilis daftar buku terbaik yang kubaca selama tahun 2017 ini. Dari belasan buku, aku memilih 3 buku terbaik. Berikut ini daftarnya:

1.       Dawuk, Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu-Mahfud Ikhwan
Sebenarnya  novel ini bukan merupakan genre favoritku. Namun novel ini telah sukses membuatku penasaran membaca lembar demi lembar halamannya. Aku selalu senang membaca novel-novel yang mampu mengangkat realitas di sekitar kita seperti novel Dawuk ini. Di tengah maraknya novel yang menceritakan tentang kaum urban dan berbagai permasalahannya, Mahfud Ikhwan hadir dengan kesederhanaan yang lebih membumi. Ia mengangkat kehidupan mantan TKI di sebuah desa bernama Rumbuk Randu. Dengan tokoh utamanya, Dawuk yang digambarkan sangat buruk rupa. Dibanding wajahnya yang buruk itu, Dawuk memiliki nasib yang jauh lebih buruk lagi.
Novel ini termasuk dalam jenis cerita berbingkai. Kisah Dawuk dituturkan tokoh bernama Warto Kemplung. Sejak awal penulis telah ‘memperingatkan’ bahwa Warto ini adalah seorang pembual. Namun entah kenapa, seperti halnya pendengar cerita Warto dalam novel tersebut, pembaca dibuat bertanya-tanya apakah kisah Dawuk ini benar-benar nyata atau hanya bualannya. Di saat bersamaan, pembaca ikut terlarut dengan kesedihan dari cerita yang ia tuturkan. 
Bagian yang paling kusuka dari novel ini adalah endingnya yang tak terduga. Aku merasa kesal, namun juga senang dan lega.  Sebuah ending yang tidak pernah kutemui dari novel-novel yang pernah kubaca sebelumnya. Tidak mengherankan jika novel ini menang penghargaan Khatulistiwa Award 2017, sekaligus tentu saja pemenang pertama best book of the year ini.

2.       The Book of Forbidden Feelings-Lala Bohang
Siapa yang menyangka, buku diary yang semestinya tersimpan di tempat paling tersembunyi di dalam kamar, terpajang di rak buku dan dibaca oleh ribuan orang? Inilah yang kulihat dari buku The Book of Forbidden Feelings karya Lala Bohang.  Buku ini semacam kumpulan ‘curhat’, lengkap dengan illustrasi khas Lala Bohang yang mewakili perasaan gloomy dari penulisnya. Kekuatan dari buku ini terletak pada keberanian Lala Bohang untuk jujur dalam menyampaikan perasaan-perasaan yang dianggap tabu oleh kebanyakan orang. Padahal sebenarnya perasaan tersebut ada juga dalam diri setiap orang. Buku ini juga mengajakku jujur pada diri sendiri. Banyak point yang mewakili perasaanku membuatku merasa tidak sendirian. Sangat menyentuh dan personal. Barangkali itu jugalah yang menjadikannya salah satu buku best seller tahun ini.




Sebenarnya ada buku lanjutan yang dirilis Lala Bohang berjudul The Book of Invisible Question. Namun aku merasa buku tersebut tidak sematang buku pertamanya. Terutama ilustrasinya, seperti karya yang terburu-buru dikerjakan. Sayang banget, padahal aku yakin Lala mampu membuat ilustrasi yang jauh lebih baik.

3.       Rumah Tangga Surga- Ikhsanun Kamil & Foezi Citra Cuaca
Buku ini sebenarnya kubeli untuk kado salah seorang  teman, namun urung kuberikan karena aku juga pengen baca. Hehe.. Ini adalah buku kedua canun dan fufu yang kubeli. Mereka adalah pasangan muda yang berprofesi sebagai konsultan pernikahan. Buku yang pertama, berjudul Jodoh Dunia Akhirat, ngena banget sama situasiku saat itu yang sering galau mikirin jodoh. Makanya, begitu mereka mengeluarkan buku baru lagi aku langsung antusias ingin membacanya juga. Kali ini judulnya Rumah Tangga Surga. Buku ini lebih banyak mengulas tentang kehidupan pernikahan, berbagai permasalahan yang sering dialami oleh pasangan dan bagaimana caranya membangun rumah tangga yang harmonis. Buku ini tidak hanya memberi solusi bagaimana memecahkan masalah, namun juga membantu mengulik lebih dalam akar dari permasalahan tersebut. Bisa jadi ada dosa masa lalu yang tidak kita sadari dan belum terselesaikan. Lewat buku ini kita dibimbing untuk melakukan cleansing atau pembersihan diri agar nantinya kita bisa ‘terlahir’ sebagai manusia baru yang siap menjalani kehidupan yang lebih baik bersama pasangan. Berikutnya ada tahap Nurturing berisi langkah-langkah untuk merawat cinta, dan Designing, bagaimana merancang masa depan bersama pasangan.
Seperti halnya buku ‘Jodoh Dunia Akhirat’, aku banyak mendapat pengetahuan baru yang ‘ngena banget’. O ya, meskipun buku ini tebal, namun tidak terasa membebani karena materinya disampaikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami.


Itu tadi 3 buah buku yang terpilih menjadi buku terbaik tahun ini. Sifatnya memang subjektif namun bukan berarti tidak bisa dijadikan referensi bacaan. So, jangan ragu untuk segera mendapatkan buku-buku ini di toko buku terdekat.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Softlens New More Dubai (Honey Brown)

Sebagai penderita mata minus aku jarang banget memakai softlens. Aku lebih memilih pakai kacamata untuk sehari-hari karena nggak ribet, dan hanya memakai softlens untuk event tertentu saja seperti kondangan atau acara spesial lain. Kebetulan bulan ini banyak banget undangan nikahan. Jadi aku memutuskan untuk beli softlens lagi. Walau hanya perintilan kecil aku ngerasa ini ngaruh banget untuk penampilanku keseluruhan. Meski baju dan dandanan udah cantik, kalau pakai kacamata tuh rasanya kurang perfect aja gitu.

Silly Gilly Daily: Rekomendasi Bacaan untuk Para Introvert

Beberapa tahun ini buku dengan konsep full colour dengan gambar-gambar ilustrasi sedang naik daun. Ditandai dengan munculnya buku #88LOVELIFE karya fashion blogger Diana Rikasari dan ilustrator Dinda PS pada tahun 2015 (Kabarnya buku ini sempat ditolak oleh penerbit sebelum akhirnya menjadi buku best seller ). Hingga baru-baru ini muncul buku yang fenomenal banget, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (nkcthi) yang langsung terjual 5000 eksemplar di menit-menit pertamanya (Aku termasuk salah satu yang menunggu2 buku ini terbit. Sampai harus bolak balik ke toko buku karena selalu sold out ). Kehadiran buku berilustrasi semacam ini menurutku memberi dampak sangat positif sehingga masyarakat antusias datang ke toko buku. Padahal dari segi harga buku ini tidaklah murah. Orang yang tadinya nggak suka membaca mulai tertarik dengan buku karena ilustrasinya. Bagi yang memang hobi membaca, mereka jadi punya alternatif bacaan yang nggak cuma berisi tulisan aja.

Talk about Relationship

Ada sebuah buku menarik berjudul Eneagram karya Renee Baron dan Elizabeth Wagele. Yang berisi tentang 9 tipe kepribadian manusia. Selain memberi ulasan tentang masing-masing tipe, buku ini juga memberikan semacam test untuk mengetahui termasuk ke dalam tipe manakah kita. Beberapa waktu lalu aku dan suami sama-sama mencoba test tersebut dan hasilnya cukup mengejutkan. Point tertinggi yang kuperoleh ada pada tipe romantis. Sebaliknya di tipe ini suami mendapat point terendahnya. Dari situ akupun menyadari apa yang sering menjadi akar masalah kami selama ini, terutama di tahun-tahun awal kami bersama. Kami memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Aku sering merasa suami terlalu cuek, tidak perhatian dan tidak romantis. Sebaliknya, mungkin ia merasa kesal karena aku terlalu melankolis dan lebay. Lalu bagaimana akhirnya kami bisa bertahan dengan perbedaan tersebut? Jodoh bukan berarti harus 100% langsung cocok. Butuh proses panjang untuk itu. Karena pada dasarnya setiap orang memili