Langsung ke konten utama

Perjalanan Menemukan Mimpi Kembali Setelah Punya Anak

Sejak kecil aku menyukai dunia seni dan hal-hal berbau kreatif. Cita-citaku, kalau nggak jadi penulis ya ilustrator (baca: My Passion Story  ) Berangkat dari hal itu, aku memilih jurusan seni sebagai pendidikan formalku.  Selama ini aku cukup idealis dan ambisius dalam mengejar sesuatu. Di sekolah aku termasuk murid berprestasi. Aku senang ikut berbagai kompetisi dan sering memenangkan penghargaan. Aku juga berhasil mendapatkan beasiswa di kampus ternama yang menjadi impian banyak orang. Lalu, setelah lulus aku bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan fashion, sesuatu yang memang aku inginkan selama ini.  Tapi semuanya terhenti sejak aku punya anak. Aku merasa kehilangan banyak hal. Tidak adanya pencapaian membuatku merasa " unworthy ". Bisa dibilang itu menjadi salah satu titik terendahku (baca:  Perjalanan Seorang Ibu Berdamai dengan Diri Sendiri  )  Namun, di saat bersamaan, seolah Tuhan ingin memberitahuku, bahwa hidup tidak sekedar mengejar nilai dan angka-an

Liburan Akhir Tahun di Chinatown ,Bandung

Waah.. minggu ini banyak agenda liburan. Udah kayak orang kantoran aja. Mereka liburan aku juga ikut liburan. Hehee.. habis ya gimana. Ibu rumah tangga kan butuh refreshing juga. Kebetulan banget patner jarambah aku, Karin, lagi libur kerja sampai awal tahun. Fyi, ini adalah moment langka bisa jalan bareng lagi. Semenjak pindah tempat kerja,dia jadi punya hobby baru, lembur. Boro-boro mau ngajakin jalan, di saat orang lain menikmati weekend, dia masih sibuk di kantor. Makanya begitu dia ada waktu luang, kemanapun, aku hayuk aja.
Nah, sebenernya tujuan awal kami adalah mau ke salah satu cafe di daerah Dago atas.  Tapi berhubung perjalananannya jauh, sedangkan perut udah lapar tak tertahankan, kami melipir dulu ke Chinatown, di jalan Kelenteng, Bandung. Kenapa Chinatown dan bukannya warteg atau yang lain? Karena sebenernya kami udah lama pengen ke sini namun belum kesampaian.

Chinatown ini letaknya di kawasan pecinan. Bangunan-bangunan di sekitar sini mengingatkanku pada Gang Suryatmajan, di Yogyakarta yang kental dengan nuansa China tempo dulu. Salut dengan pemerintah kota yang sampai sekarang masih mempertahankan bangunan tersebut.



Dengan membayar 20.000 rupiah perorang, kami sudah mendapatkan tiket masuk dan souvenir berupa gantungan kunci Chinatown.
Begitu masuk yang pertama kami tuju adalah food courtnya. Makanan yang dijual di sini hampir sama dengan food court kebanyakan yang menjual berbagai macam masakan Indonesia. Sayang, untuk transaksi apapun di sini tidak menerima debit. Kita hanya bisa membayar dengan kartu flash atau kartu debit. Itupun yang disediakan cuma debit BCA L

Setelah kenyang, kami memulai jalan-jalan. Di sini aku merasa seperti ada dalam serial kungfu. Banyak sekali lampion dan papan nama dengan tulisan China. Ada deretan toko souvenir dan  rumah yang bisa kita masuki. Interior di dalamnya pun dibuat menyerupai rumah-rumah china tempo dulu. Makanan khas China ala-ala street food juga banyak dijual di sini. Tenang aja, semua makanan yang di jual tidak mengandung babi kok, jadi halal untuk dikonsumsi. ( Ada pemberitahuannya di depan pintu masuk).





Chinatown ini memang tidak begitu luas. Jarak antar bangunan cukup rapat. Mungkin menyesuaikan lingkungan di China yang sebenarnya. Tapi nggak usah khawatir, kita nggak akan kekurangan spot foto, kok. Di sini semua tempatnya instagramable. Kita cuma perlu sedikit bersabar karena untuk berfoto di beberapa spot kita harus mengantri terlebih dahulu. O iya, biar fotonya kelihatan lebih bagus, kita bisa, loh, menyewa kostum ala-ala Putri Huan Zhu di sini.
Selain itu semua, fasilitas di sini cukup lengkap. Ada toilet, mushola dan tempat bermain anak. Ada juga museum kecil di mana kita bisa belajar tentang sejarah masyarakat Tionghoa.


Over all, China Town bisa jadi salah satu alternatif liburan di tengah kota. Apalagi untuk yang males pergi jauh-jauh. Jangan lupa isi full baterai kamera biar bisa puas foto-foto.  O ya, tempat ini juga dekat dengan mall 23 Paskal. Jadi kalau pengen lanjut belanja bisa langsung cusss ke sana. Selamat liburan!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Softlens New More Dubai (Honey Brown)

Sebagai penderita mata minus aku jarang banget memakai softlens. Aku lebih memilih pakai kacamata untuk sehari-hari karena nggak ribet, dan hanya memakai softlens untuk event tertentu saja seperti kondangan atau acara spesial lain. Kebetulan bulan ini banyak banget undangan nikahan. Jadi aku memutuskan untuk beli softlens lagi. Walau hanya perintilan kecil aku ngerasa ini ngaruh banget untuk penampilanku keseluruhan. Meski baju dan dandanan udah cantik, kalau pakai kacamata tuh rasanya kurang perfect aja gitu.

Silly Gilly Daily: Rekomendasi Bacaan untuk Para Introvert

Beberapa tahun ini buku dengan konsep full colour dengan gambar-gambar ilustrasi sedang naik daun. Ditandai dengan munculnya buku #88LOVELIFE karya fashion blogger Diana Rikasari dan ilustrator Dinda PS pada tahun 2015 (Kabarnya buku ini sempat ditolak oleh penerbit sebelum akhirnya menjadi buku best seller ). Hingga baru-baru ini muncul buku yang fenomenal banget, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (nkcthi) yang langsung terjual 5000 eksemplar di menit-menit pertamanya (Aku termasuk salah satu yang menunggu2 buku ini terbit. Sampai harus bolak balik ke toko buku karena selalu sold out ). Kehadiran buku berilustrasi semacam ini menurutku memberi dampak sangat positif sehingga masyarakat antusias datang ke toko buku. Padahal dari segi harga buku ini tidaklah murah. Orang yang tadinya nggak suka membaca mulai tertarik dengan buku karena ilustrasinya. Bagi yang memang hobi membaca, mereka jadi punya alternatif bacaan yang nggak cuma berisi tulisan aja.

Talk about Relationship

Ada sebuah buku menarik berjudul Eneagram karya Renee Baron dan Elizabeth Wagele. Yang berisi tentang 9 tipe kepribadian manusia. Selain memberi ulasan tentang masing-masing tipe, buku ini juga memberikan semacam test untuk mengetahui termasuk ke dalam tipe manakah kita. Beberapa waktu lalu aku dan suami sama-sama mencoba test tersebut dan hasilnya cukup mengejutkan. Point tertinggi yang kuperoleh ada pada tipe romantis. Sebaliknya di tipe ini suami mendapat point terendahnya. Dari situ akupun menyadari apa yang sering menjadi akar masalah kami selama ini, terutama di tahun-tahun awal kami bersama. Kami memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Aku sering merasa suami terlalu cuek, tidak perhatian dan tidak romantis. Sebaliknya, mungkin ia merasa kesal karena aku terlalu melankolis dan lebay. Lalu bagaimana akhirnya kami bisa bertahan dengan perbedaan tersebut? Jodoh bukan berarti harus 100% langsung cocok. Butuh proses panjang untuk itu. Karena pada dasarnya setiap orang memili