Langsung ke konten utama

Perjalanan Menemukan Mimpi Kembali Setelah Punya Anak

Sejak kecil aku menyukai dunia seni dan hal-hal berbau kreatif. Cita-citaku, kalau nggak jadi penulis ya ilustrator (baca: My Passion Story  ) Berangkat dari hal itu, aku memilih jurusan seni sebagai pendidikan formalku.  Selama ini aku cukup idealis dan ambisius dalam mengejar sesuatu. Di sekolah aku termasuk murid berprestasi. Aku senang ikut berbagai kompetisi dan sering memenangkan penghargaan. Aku juga berhasil mendapatkan beasiswa di kampus ternama yang menjadi impian banyak orang. Lalu, setelah lulus aku bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan fashion, sesuatu yang memang aku inginkan selama ini.  Tapi semuanya terhenti sejak aku punya anak. Aku merasa kehilangan banyak hal. Tidak adanya pencapaian membuatku merasa " unworthy ". Bisa dibilang itu menjadi salah satu titik terendahku (baca:  Perjalanan Seorang Ibu Berdamai dengan Diri Sendiri  )  Namun, di saat bersamaan, seolah Tuhan ingin memberitahuku, bahwa hidup tidak sekedar mengejar nilai dan angka-an

Cerita Honeymoon 1 (Berburu Senja di Pantai Bali)

Yeiiyy.. Akhirnya kesampaian juga nulis catatan perjalanan selama aku liburan di Bali. Tapi berhubung ada banyak tempat yang kukunjungi, jadi kucicil ya, jadi beberapa bagian. Kali ini aku mau cerita tentang keindahan pantainya. Bali ini emang surga bagi pecinta laut. Mulai dari pantai yang ramai hingga yang sepi, yang banyak karang maupun tidak, semua ada. Mau sekedar main pasir atau liat sunset, surfing, snorkling, bisa. Kebetulan sebagian besar tempat yang kami kunjungi adalah pantai. So, aku paling excited untuk cerita tentang ini. Langsung aja deh, berikut beberapa ulasannya:

1.Pantai Kuta

Ini adalah pantai pertama yang aku dan suami kunjungi begitu tiba di Bali. Letaknya yang berada di pusat kota membuat akses jalan menuju tempat ini sangat mudah. Kami sendiri cukup berjalan kaki. Kebetulan hotel tempat kami menginap deket banget dengan pantai.
Sebenarnya kami datang nggak pagi-pagi amat, sekitar jam 9an. Tapi pantai ini masih sepi pengunjung. Toko-toko di sepanjang jalan yang kami lewati juga masih banyak yang tutup. Seperti belum ada kehidupan. Nggak heran sih, daerah ini sangat terkenal dengan hiburan malamnya. Orang-orang banyak yang menghabiskan waktu di bar pada malam hari bahkan hingga pagi. Wajar jika mereka masih lelap tidur meski matahari sudah tinggi. Sesekali hanya nampak wisatawan yang sedang jogging di pantai. Ada juga beberapa yang surfing. Ombak di sini cukup aman untuk olahraga tersebut.
Ternyata, pemandangan pada pagi hari jauh berbeda dengan sore harinya. Pada sore hari, pantai ini akan dipenuhi wisatawan yang ingin melihat sunset. Mereka akan duduk di sepanjang pantai seperti sedang nonton layar tancep. Daya tarik utama Pantai Kuta memang terletak pada keindahan sunsetnya. Ditambah lagi pantai ini sangat luas dan bersih dari karang-karang membuat pemandangan sunset jadi nampak menonjol.



2.Pantai Seminyak
Pantai ini tidak jauh berbeda dengan Kuta. Mungkin karena letaknya cukup berdekatan. Keduanya sama-sama berpasir hitam dan menawarkan keindahan sunset (Sayangnya, waktu aku kesana langitnya sedang mendung jadi nggak bisa lihat sunset. Padahal kami udah nunggu lama ;-( ). 
Namun dibanding Kuta, pantai Seminyak ini lebih sepi. Cocok untuk yang ingin menikmati sunset tapi tidak terlalu suka keramaian. Hanya saja disini banyak sekali anjing yang berkeliaran. Bagi yang takut anjing sepertiku, mungkin akan sedikit merasa tidak nyaman.
O iya, di daerah Seminyak ini banyak banget cafe-cafe lucu dan instagramable. Ada Sea Vu Play, Sea Circus, Cabina, La Mexicola dan masih banyak lagi. Mungkin namanya terdengar asing, tapi kalau kita rajin scrolling instagram, tempat-tempat tersebut pasti sudah sering kita lihat (salah satunya semoga bisa kuulas nanti). So, buat kamu yang hobi foto-foto, sebelum ke pantai Seminyak, ada  baiknya sekalian mampir ke cafe-cafe yang udah kusebutin di atas.




3. Pantai Pandawa
Ini nih, salah satu pantai yang terkenal juga di Bali. Letaknya cukup jauh, di ujung selatan pulau Bali, tepatnya di daerah Uluwatu. Waktu aku ke sana, sepertinya masih dalam proses renovasi. Sebelum mencapai pantai, terlebih dahulu kami disambut oleh tebing-tebing kapur berwarna putih. Beberapa bagian dari tebing tersebut dipahat menyerupai goa dan ada patung-patung raksasa didalamnya. Karakteristik pantai ini mengingatkanku pada pantai-pantai di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Dengan pasir putih yang butirannya besar-besar. Beberapa bagian terdapat karang-karang berlumut. Airnya sangat tenang dan jernih. Di bagian yang dangkal kita bahkan bisa melihat dasarnya. Kita juga bisa melihat ikan-ikan kecil yang berenang di sekitar kaki. 
Wisatawan di sini kebanyakan adalah wisatawan lokal. Dari logatnya sepertinya banyak yang berasal dari daerah Jawa Timur. Ada juga wisatawan China dan negara Asia lain. Sementara 'bule' tidak begitu banyak.
O ya, di pantai ini ada penyewaan kano, loh! Semacam perahu kecil yang bisa dinaiki 2 atau 3 orang. Tapi dibanding menaiki kano, aku dan suami memilih untuk berjalan menyusuri pantai. Ternyata ada bagian dari pantai ini yang cukup sepi. Aku jadi lebih bisa menikmati keindahan pantai. Di sini jugalah, aku dan suami bikin foto ala-ala prewedding dengan bantuan tripot. Maklumlah sebelum nikah kami nggak ada acara prewed-prewed an.







4. Tanah Lot
Kalau pengen ke pantai yang kental dengan nuansa Balinya. Mungkin Tanah Lot ini jawabnya. Di pantai ini ada sebuah tebing dengan pura diatasnya. Ketika senja, jika dilihat dari sebelah timur, pura ini akan nampak sangat indah dan dramatis. Seperti lukisan siluet dengan matahari tenggelam di sebelahnya, Sayang, sehari-hari pura itu tertutup untuk umum. Tapi kita masih bisa berkeliling menikmati pantai yang sebagian besar permukaannya berupa bebatuan. Namun hati-hati, ya, karena konon di batu-batu tersebut banyak tersembunyi ular laut.  






5. Pantai Dreamland
Ini adalah pantai dengan rute tersulit yang pernah kami kunjungi. Kami harus melewati bukit dan perkampungan yang sepi. Beberapa kali bahkan kami sempat tersesat. Sementara waktu yang kami punya nyaris habis. Kami harus beradu cepat dengan matahari agar bisa menyaksikan sunset. Suami memacu kendaraan sekencang-kencangnya. Sepanjang jalan aku nggak lepas dari doa-doa.   
Namun semua itu akhirnya terbayar lunas begitu melihat pemandangan sunset yang sangat indah. Pantai ini letaknya agak tersembunyi dan tidak begitu luas. Ada bukit karang yang melingkupi pantai. Bagiku ini adalah pantai yang terindah. Rasanya seperti di negeri dongeng. Matahari bulat dihadapanku. Pasir putih, laut biru, langit pink kekuningan, perpaduan warna pastel yang sempurna. 
Sayangnya, pemandangan itu hanya dapat kami lihat sekejap. Matahari cepat sekali tenggelam. Langit menggelap dan kami harus segera pulang agar tidak terjebak macet. 





6.Pantai Pertamina
Sebenarnya aku dan suami tidak punya niatan khusus untuk ke sini. Awalnya kami hanya berkeliling kota naik motor tanpa tujuan. Lalu kami 'menemukan' pantai ini. Namanya pantai Pertamina. Memang tidak begitu terkenal di kalangan wisatawan. Padahal letaknya masih satu deret dengan Pantai Kuta dan Seminyak. Walaupun begitu, pantai ini tetap menyimpan keunikannya tersendiri. Di sini kita bisa melihat wajah lain dari Bali. Kita bisa melihat kehidupan masyarakat Bali yang lebih real dan sederhana. Misalnya menyaksikan anak-anak kecil mencari ikan atau yang bermain bola di tepi pantai. Di sini banyak juga kapal-kapal nelayan yang merapat. Ketika senja kapal-kapal tersebut menjadi siluet sangat indah. Ya, seperti umumnya deretan pantai barat, pantai Pertamina juga menawarkan pemandangan sunset yang memukau. Ada 1 spot yang bagus untuk menyaksikan sunset. Aku tidak tahu persis namanya. Mungkin semacam pemecah ombak yang memanjang ke laut. Selain sunset, dari sini kita juga bisa melihat pesawat lepas landas dari bandara Ngurah Rai (Antara pantai dengan bandara jaraknya memang cukup dekat) Berhubung kami ke sini pada hari-hari terakhir, rasanya sedih sekali melihat pesawat lepas landas. Kami jadi ingat bahwa liburan sebentar lagi berakhir dan kami harus segera kembali ke Bandung 😢



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Softlens New More Dubai (Honey Brown)

Sebagai penderita mata minus aku jarang banget memakai softlens. Aku lebih memilih pakai kacamata untuk sehari-hari karena nggak ribet, dan hanya memakai softlens untuk event tertentu saja seperti kondangan atau acara spesial lain. Kebetulan bulan ini banyak banget undangan nikahan. Jadi aku memutuskan untuk beli softlens lagi. Walau hanya perintilan kecil aku ngerasa ini ngaruh banget untuk penampilanku keseluruhan. Meski baju dan dandanan udah cantik, kalau pakai kacamata tuh rasanya kurang perfect aja gitu.

Silly Gilly Daily: Rekomendasi Bacaan untuk Para Introvert

Beberapa tahun ini buku dengan konsep full colour dengan gambar-gambar ilustrasi sedang naik daun. Ditandai dengan munculnya buku #88LOVELIFE karya fashion blogger Diana Rikasari dan ilustrator Dinda PS pada tahun 2015 (Kabarnya buku ini sempat ditolak oleh penerbit sebelum akhirnya menjadi buku best seller ). Hingga baru-baru ini muncul buku yang fenomenal banget, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (nkcthi) yang langsung terjual 5000 eksemplar di menit-menit pertamanya (Aku termasuk salah satu yang menunggu2 buku ini terbit. Sampai harus bolak balik ke toko buku karena selalu sold out ). Kehadiran buku berilustrasi semacam ini menurutku memberi dampak sangat positif sehingga masyarakat antusias datang ke toko buku. Padahal dari segi harga buku ini tidaklah murah. Orang yang tadinya nggak suka membaca mulai tertarik dengan buku karena ilustrasinya. Bagi yang memang hobi membaca, mereka jadi punya alternatif bacaan yang nggak cuma berisi tulisan aja.

Talk about Relationship

Ada sebuah buku menarik berjudul Eneagram karya Renee Baron dan Elizabeth Wagele. Yang berisi tentang 9 tipe kepribadian manusia. Selain memberi ulasan tentang masing-masing tipe, buku ini juga memberikan semacam test untuk mengetahui termasuk ke dalam tipe manakah kita. Beberapa waktu lalu aku dan suami sama-sama mencoba test tersebut dan hasilnya cukup mengejutkan. Point tertinggi yang kuperoleh ada pada tipe romantis. Sebaliknya di tipe ini suami mendapat point terendahnya. Dari situ akupun menyadari apa yang sering menjadi akar masalah kami selama ini, terutama di tahun-tahun awal kami bersama. Kami memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Aku sering merasa suami terlalu cuek, tidak perhatian dan tidak romantis. Sebaliknya, mungkin ia merasa kesal karena aku terlalu melankolis dan lebay. Lalu bagaimana akhirnya kami bisa bertahan dengan perbedaan tersebut? Jodoh bukan berarti harus 100% langsung cocok. Butuh proses panjang untuk itu. Karena pada dasarnya setiap orang memili