Langsung ke konten utama

Perjalanan Menemukan Mimpi Kembali Setelah Punya Anak

Sejak kecil aku menyukai dunia seni dan hal-hal berbau kreatif. Cita-citaku, kalau nggak jadi penulis ya ilustrator (baca: My Passion Story  ) Berangkat dari hal itu, aku memilih jurusan seni sebagai pendidikan formalku.  Selama ini aku cukup idealis dan ambisius dalam mengejar sesuatu. Di sekolah aku termasuk murid berprestasi. Aku senang ikut berbagai kompetisi dan sering memenangkan penghargaan. Aku juga berhasil mendapatkan beasiswa di kampus ternama yang menjadi impian banyak orang. Lalu, setelah lulus aku bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan fashion, sesuatu yang memang aku inginkan selama ini.  Tapi semuanya terhenti sejak aku punya anak. Aku merasa kehilangan banyak hal. Tidak adanya pencapaian membuatku merasa " unworthy ". Bisa dibilang itu menjadi salah satu titik terendahku (baca:  Perjalanan Seorang Ibu Berdamai dengan Diri Sendiri  )  Namun, di saat bersamaan, seolah Tuhan ingin memberitahuku, bahwa hidup tidak sekedar mengejar nilai dan angka-an

Cerita Honeymoon 2 ( Menyusuri Jejak Sejarah Pulau Dewata)

Hi! Beberapa waktu lalu aku udah cerita tentang wisata pantai di Bali. Sesuai janji, kali ini aku akan lanjutkan dengan cerita beberapa tempat wisata lain non pantai di Bali yang tidak kalah indah.


1. Museum Bali
Ini adalah museum pertama yang kami kunjungi di Bali. Kebetulan suami punya ketertarikan lebih terhadap museum dan hal-hal yang berbau sejarah. Dulu juga waktu pacaran, kami sering mengunjungi berbagai musium, baik di Jogja maupun Bandung (Bagi kami ngedate di mall sudah terlalu mainstream. Hehe..) Makanya waktu tahu ada musium Bali, kami langsung memasukannya ke dalam list tempat yang wajib dikunjungi.




Dari luar sekilas bangunan musium ini seperti komplek pura. Begitu masuk ke dalam, kita akan disuguhkan deretan etalase kaca berisi artefak-artefak bersejarah. Secara keseluruhan museum ini menceritakan tentang sejarah awal masyarakat Bali dan perkembangan budayanya.



Saat kami kesana kebetulan lagi ada prewedding pasangan yang berpakaian khas Bali. Nggak mau menyia-nyiakan kesempatan, kamipun minta foto bareng sebagai kenang-kenangan.


2. Museum Antonio Blanco
    Museum yang memiliki nama resmi Museum The Blanco Renassance ini terletak di daerah Ubud. Tempatnya sejuk dan asri. Banyak pepohonan dan bunga di halaman museum. Sayang, kami hanya diperbolehkan mengambil foto di bagian luar saja. Tapi tenang, aku akan cerita apa yang kulihat di dalam galeri.


Kesan mewah terasa begitu kami memasuki bangunan galeri. Nuansa interior eropa lama sangat kental. Ada banyak banget lukisan yang dipajang dalam galeri ini. Sebagian besar berupa objek wanita. O ya, yang menarik adalah, yang menjadi model lukisan beliau adalah istrinya sendiri. Seorang penari Bali bernama Ni Ronji.
Tak hanya lukisannya, framenya pun digarap dengan sungguh-sungguh. Setiap lukisan memiliki frame yang berbeda, menyesuaikan tema lukisan. Beberapa bahkan ada hiasan kolasenya. Unik. Ternyata Pak Antonio sendiri lah yang membuat frame itu. Pantas, frame dan lukisan seperti satu paket yang saling terkait.

Di samping pintu keluar galeri utama, ada sebuah bangunan lagi. Oleh pemandu yang berjaga di tempat itu, kami dipersilakan masuk. Rupanya itu adalah studio tempat pak Antonio melahirkan karya-karyanya. Seperti layaknya rumah seniman, bangunan kecil itu penuh dengan lukisan, peralatan lukis dan juga foto-foto keluarga Pak Antonio.

Yang paling menarik perhatian adalah kanvas yang ada di tengah-tengah ruangan. Tepat di bawah kanvas itu lantainya sengaja dibuat berlubang. Menurut cerita, ternyata Pak Antonio menderita sakit yang membuatnya tidak bisa berlama-lama duduk dengan melipat atau menyilangkan kaki. Jadi ketika melukis, kedua kakinya masuk ke dalam lubang lantai. Mendengar penjelasan itu, sekilas terlintas rasa malu di hati. Pak Antonio dengan sakitnya masih tetap semangat berkarya, sedangkan aku yang diberi kesehatan sempurna kadang masih menunda-nunda untuk berkarya. 


O iya, di depan studio, ada spot dimana kita bisa berfoto dengan burung kakak tua, loh. Ada juga restoran dengan konsep outdoor. Dari sini kita bisa melihat view pemandangan yang bagus. O ya, di restoran ini kita bisa menukar tiket dengan minuman gratis. Lumayan kan yaa..

3.       Pura Taman Ayun
Pura ini merupakan peninggalan kerajaan Mengwi, yang sekarang dijadikan tempat wisata. Sayang, pengunjung tidak bisa masuk ke pura utamanya. Namun kita masih bisa berkeliling di taman sekitar pura. Kita bisa melihat bangunan khas Bali dan tanaman yang asri.







4.   Danau Ulun Danu Beratan
Ini nih salah satu tempat paling iconic di Bali. Seperti namanya, danau Ulun Danu menawarkan pemandangan danau yang sangat indah. Kita bisa menaiki perahu kecil mengelilingi danau. Kalaupun tidak, kita bisa berjalan-jalan di taman sekitar danau, atau berfoto di depan pura, yang menjadi spot sejuta umat. Danau Ulun Danu ini terletak di dataran tinggi sehingga meski siang hari udaranya tetap dingin. 




Perjalanan dari hotel kami di Kuta menuju tempat ini cukup jauh. Malah sempat ada drama motor hampir ngadat di jalanan nanjak. Meski begitu, kami tetep gembira. Ada banyak pemandangan indah yang kami temui sepanjang perjalanan. Salah satunya melihat anak-anak pulang sekolah ini. Mereka mengenakan pakaian adat Bali.


Pulang dari Ulun Danu kami sempat mampir ke sebuah resto. Namanya Waroeng Billy's D'desa . Konsepnya seperti resto pedesaan, dengan saung-saung kecil gitu. Cocoklah untuk istirahat setelah perjalanan jauh. Di sini kami mencoba menu khas Bali yaitu ayam betutu. Ada plecing kangkung dan sambal matahnya juga. Rasanya enak banget. Pelayanannya juga ramah. Recomended bangetlah pokoknya!



5.       Sawah Tegalalang
Ubud menawarkan pemandangan alam yang indah berupa sawah dan pegunungan. Salah satu yang terkenal sebagai objek wisata disana adalah sawah Tegalalang. Di sini kami dimanjakan dengan pemandangan hamparan sawah terasering yang hijau nan segar. Bagi kami terbiasa dengan kesemrawutan kota, melihat pemandangan hijau seperti ini rasanya cukup untuk merecharge energi kembali.



6.       Pasar Sukawati
Sebelum kembali ke Bandung, kami berkunjung ke pasar Sukawati untuk membeli oleh-oleh. Semuanya lengkap di sini. Mulai dari baju, cinderamata, hiasan rumah, makanan khas Bali, bahkan lukisan. Harganya juga cukup terjangkau, asal kita pandai menawar saja. Namun sejujurnya, aku tidak terlalu nyaman dengan para penjual disini yang menerapkan hard sale marketing. Aku jadi tidak leluasa memilih.


7.       Monumen Legian
Ini merupakan monumen untuk mengenang peristiwa bom Bali yang terjadi tahun 2002. Terletak di pusat kota Legian. Selain monumen, di sepanjang jalan Legian ini terdapat deretan bar, cafe dan toko oleh-oleh. Bisa dibilang, Legian ini memang pusatnya para turis. Pada malam hari jalanan Legian akan ramai dipenuhi turis yang nongkrong di bar atau sekedar cuci mata.




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Softlens New More Dubai (Honey Brown)

Sebagai penderita mata minus aku jarang banget memakai softlens. Aku lebih memilih pakai kacamata untuk sehari-hari karena nggak ribet, dan hanya memakai softlens untuk event tertentu saja seperti kondangan atau acara spesial lain. Kebetulan bulan ini banyak banget undangan nikahan. Jadi aku memutuskan untuk beli softlens lagi. Walau hanya perintilan kecil aku ngerasa ini ngaruh banget untuk penampilanku keseluruhan. Meski baju dan dandanan udah cantik, kalau pakai kacamata tuh rasanya kurang perfect aja gitu.

Silly Gilly Daily: Rekomendasi Bacaan untuk Para Introvert

Beberapa tahun ini buku dengan konsep full colour dengan gambar-gambar ilustrasi sedang naik daun. Ditandai dengan munculnya buku #88LOVELIFE karya fashion blogger Diana Rikasari dan ilustrator Dinda PS pada tahun 2015 (Kabarnya buku ini sempat ditolak oleh penerbit sebelum akhirnya menjadi buku best seller ). Hingga baru-baru ini muncul buku yang fenomenal banget, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (nkcthi) yang langsung terjual 5000 eksemplar di menit-menit pertamanya (Aku termasuk salah satu yang menunggu2 buku ini terbit. Sampai harus bolak balik ke toko buku karena selalu sold out ). Kehadiran buku berilustrasi semacam ini menurutku memberi dampak sangat positif sehingga masyarakat antusias datang ke toko buku. Padahal dari segi harga buku ini tidaklah murah. Orang yang tadinya nggak suka membaca mulai tertarik dengan buku karena ilustrasinya. Bagi yang memang hobi membaca, mereka jadi punya alternatif bacaan yang nggak cuma berisi tulisan aja.

Talk about Relationship

Ada sebuah buku menarik berjudul Eneagram karya Renee Baron dan Elizabeth Wagele. Yang berisi tentang 9 tipe kepribadian manusia. Selain memberi ulasan tentang masing-masing tipe, buku ini juga memberikan semacam test untuk mengetahui termasuk ke dalam tipe manakah kita. Beberapa waktu lalu aku dan suami sama-sama mencoba test tersebut dan hasilnya cukup mengejutkan. Point tertinggi yang kuperoleh ada pada tipe romantis. Sebaliknya di tipe ini suami mendapat point terendahnya. Dari situ akupun menyadari apa yang sering menjadi akar masalah kami selama ini, terutama di tahun-tahun awal kami bersama. Kami memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Aku sering merasa suami terlalu cuek, tidak perhatian dan tidak romantis. Sebaliknya, mungkin ia merasa kesal karena aku terlalu melankolis dan lebay. Lalu bagaimana akhirnya kami bisa bertahan dengan perbedaan tersebut? Jodoh bukan berarti harus 100% langsung cocok. Butuh proses panjang untuk itu. Karena pada dasarnya setiap orang memili