Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

Perjalanan Seorang Ibu Baru Berdamai dengan Diri Sendiri

Butuh waktu 3 tahun sampai aku bener-bener bisa menerima peran baruku sebagai ibu. Sebelumnya, aku cukup struggle dengan segala perubahan yang terjadi. Duniaku melambat. Aku yang selama ini ambisius tiba-tiba harus kehilangan apa yang selama ini kukejar. Karier, kebebasan, penghasilan dan juga mimpi-mimpiku. Aku ngerasa useless , nggak berharga, nggak berdaya sehingga aku marah ke diri sendiri. Aku juga ngerasa bersalah karena nggak mampu membahagiakan orang-orang yang kucintai. Kondisiku ini, kalau dilihat dari skala kesadaran manusia, berada pada level terendah, lebih rendah dibandingkan perasaan sedih, di mana orang-orang bisa sampai terpikir bunuh diri, itu karena dia udah ada pada level kesadaran tersebut. Untungnya, aku masih cukup waras untuk tidak melakukan hal-hal yang membahayakan. Meski begitu, aku selalu dilanda kecemasan hampir setiap saat. Desember 2021, bulan di mana anakku tepat berusia 3 tahun. Aku merasa bahwa yang terjadi denganku sudah sangat mengganggu. Sempet coba

Liburan Akhir Tahun di Chinatown ,Bandung

Waah.. minggu ini banyak agenda liburan. Udah kayak orang kantoran aja. Mereka liburan aku juga ikut liburan. Hehee.. habis ya gimana. Ibu rumah tangga kan butuh refreshing juga. Kebetulan banget patner jarambah aku, Karin, lagi libur kerja sampai awal tahun. Fyi, ini adalah moment langka bisa jalan bareng lagi. Semenjak pindah tempat kerja,dia jadi punya hobby baru, lembur. Boro-boro mau ngajakin jalan, di saat orang lain menikmati weekend, dia masih sibuk di kantor. Makanya begitu dia ada waktu luang, kemanapun, aku hayuk aja. Nah, sebenernya tujuan awal kami adalah mau ke salah satu cafe di daerah Dago atas.  Tapi berhubung perjalananannya jauh, sedangkan perut udah lapar tak tertahankan, kami melipir dulu ke Chinatown, di jalan Kelenteng, Bandung. Kenapa Chinatown dan bukannya warteg atau yang lain? Karena sebenernya kami udah lama pengen ke sini namun belum kesampaian.

Melancong ke Kampung Tulip

Setelah berkali-kali gagal, akhirnya minggu kemarin berhasil juga ngebujuk suami untuk nemenin jalan-jalan ke Kampung Tulip. Bukan di Eropa, Kampung Tulip yang ini letaknya nggak jauh dari tempat kami tinggal yaitu di daerah Ciwastra, Bandung. Akses menuju ke sana juga nggak terlalu sulit kok. Nggak perlu naik-naik gunung seperti wisata sejenis yang banyak ada di daerah Lembang. Justru obyek wisata ini ada di tengah-tengah pemukiman penduduk, lebih tepatnya di komplek perumahan Banyubiru blok H, no. 17. Ya, aku nggak salah tulis, loh! Tempat ini memang ada di komplek perumahan. Sebelumnya nggak kebayang, ya, areal kosong perumahan bisa disulap menjadi tempat wisata seperti ini. Tiket masuknya pun nggak begitu mahal. Berhubung kami kesana saat liburan, kami harus membayar 12.000 rupiah per orang. Jika kesana saat weekdays, pasti lebih murah lagi.

Cerita Honeymoon 2 ( Menyusuri Jejak Sejarah Pulau Dewata)

Hi! Beberapa waktu lalu aku udah cerita tentang wisata pantai di Bali. Sesuai janji, kali ini aku akan lanjutkan dengan cerita beberapa tempat wisata lain non pantai di Bali yang tidak kalah indah. 1.  Museum Bali Ini adalah museum pertama yang kami kunjungi di Bali. Kebetulan suami punya ketertarikan lebih terhadap museum dan hal-hal yang berbau sejarah. Dulu juga waktu pacaran, kami sering mengunjungi berbagai musium, baik di Jogja maupun Bandung (Bagi kami ngedate di mall sudah terlalu mainstream. Hehe..) Makanya waktu tahu ada musium Bali, kami langsung memasukannya ke dalam list tempat yang wajib dikunjungi.

Best Book of the Year 2017

Belakangan buku terlihat lebih menggiurkan dibanding diskonan baju atau makanan enak. Bedanya dengan makanan enak yang dimakan sedikit demi sedikit agar kelezatannya tidak cepat habis, kalau buku semakin bagus akan semakin cepat kulahap. Anehnya, bukannya kenyang, aku justru semakin lapar. Akhirnya aku membeli buku lagi dan lagi. Begitu seterusnya, seperti lingkaran yang tidak pernah habis. Menjalani hari-hari di rumah dan jarang ke mana-mana, buku telah menjadi sahabat karibku dan menyelamatkan hidupku dari kebosanan. Nah, sebagai bentuk apresiasi,kebetulan momentnya juga pas di akhir tahun, kali ini aku akan ngerilis daftar buku terbaik yang kubaca selama tahun 2017 ini. Dari belasan buku, aku memilih 3 buku terbaik. Berikut ini daftarnya:

Sporty Look

Cerita Honeymoon 1 (Berburu Senja di Pantai Bali)

Yeiiyy.. Akhirnya kesampaian juga nulis catatan perjalanan selama aku liburan di Bali. Tapi berhubung ada banyak tempat yang kukunjungi, jadi kucicil ya, jadi beberapa bagian. Kali ini aku mau cerita tentang keindahan pantainya. Bali ini emang surga bagi pecinta laut. Mulai dari pantai yang ramai hingga yang sepi, yang banyak karang maupun tidak, semua ada. Mau sekedar main pasir atau liat sunset, surfing, snorkling, bisa. Kebetulan sebagian besar tempat yang kami kunjungi adalah pantai. So, aku paling excited untuk cerita tentang ini. Langsung aja deh, berikut beberapa ulasannya: 1.Pantai Kuta

Talk about Relationship

Ada sebuah buku menarik berjudul Eneagram karya Renee Baron dan Elizabeth Wagele. Yang berisi tentang 9 tipe kepribadian manusia. Selain memberi ulasan tentang masing-masing tipe, buku ini juga memberikan semacam test untuk mengetahui termasuk ke dalam tipe manakah kita. Beberapa waktu lalu aku dan suami sama-sama mencoba test tersebut dan hasilnya cukup mengejutkan. Point tertinggi yang kuperoleh ada pada tipe romantis. Sebaliknya di tipe ini suami mendapat point terendahnya. Dari situ akupun menyadari apa yang sering menjadi akar masalah kami selama ini, terutama di tahun-tahun awal kami bersama. Kami memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Aku sering merasa suami terlalu cuek, tidak perhatian dan tidak romantis. Sebaliknya, mungkin ia merasa kesal karena aku terlalu melankolis dan lebay. Lalu bagaimana akhirnya kami bisa bertahan dengan perbedaan tersebut? Jodoh bukan berarti harus 100% langsung cocok. Butuh proses panjang untuk itu. Karena pada dasarnya setiap orang memili

Ombak

Kau mengutuki bebatuan Sedang aku, tenggelam dalam gemuruhmu Di dadaku Kau menyaksikan keheningan Sedang aku nyaris karam Oleh rasa getir Oleh rahasia yang kutitipkan Pada palung-palung laut     Aku tak ingin berharap pada yang akan dan takkan Kau tetap pengelana laut Sedang aku harus pulang pada pesisir

Sepotong kayu

Sepotong kayu kau lukai dengan paku. Di punggungnya kau tata aneka hidangan. Ia menyaksikan keserakahanmu. Sembari cemas berharap. Semoga ayam yang tengah kau lahap. Bukan karibnya di kebun dulu. Beberapa kau jajar di muka rumah. Supaya jelas batas wilayah. Lalu kau  tidur nyenyak. Sementara rasa bersalah mengusiknya siang malam. Barangkali burung-burung sedang bingung mendapati rumahnya hilang. Sepotong lagi kau pasung dekat pintu. Layu. Mendekap tubuh anak istrimu. Senyum kalian membuatnya kian luka. Diam-diam  diimpikannya. Pulang. Bertemu lagi dengan daun dan akar (Maret 2010)

Pada malam natal aku melihat santa clause

Pada malam natal aku melihat santa clause Ia keluar dari mesin percetakan dalam jumlah ribuan eksemplar Wajahnya terpampang manis tanpa kumis menawarkan produk alat cukur Di lain   hari   kutemukan ia berjemur di aspal Menyebar flayer-flayer bergambar menu natal Aih, betapa perutnya yang buncit cermin citarasa tiada tara