Langsung ke konten utama

Perjalanan Seorang Ibu Baru Berdamai dengan Diri Sendiri

Butuh waktu 3 tahun sampai aku bener-bener bisa menerima peran baruku sebagai ibu. Sebelumnya, aku cukup struggle dengan segala perubahan yang terjadi. Duniaku melambat. Aku yang selama ini ambisius tiba-tiba harus kehilangan apa yang selama ini kukejar. Karier, kebebasan, penghasilan dan juga mimpi-mimpiku. Aku ngerasa useless , nggak berharga, nggak berdaya sehingga aku marah ke diri sendiri. Aku juga ngerasa bersalah karena nggak mampu membahagiakan orang-orang yang kucintai. Kondisiku ini, kalau dilihat dari skala kesadaran manusia, berada pada level terendah, lebih rendah dibandingkan perasaan sedih, di mana orang-orang bisa sampai terpikir bunuh diri, itu karena dia udah ada pada level kesadaran tersebut. Untungnya, aku masih cukup waras untuk tidak melakukan hal-hal yang membahayakan. Meski begitu, aku selalu dilanda kecemasan hampir setiap saat. Desember 2021, bulan di mana anakku tepat berusia 3 tahun. Aku merasa bahwa yang terjadi denganku sudah sangat mengganggu. Sempet coba

DIY Project: Make Over My Room




Salah satu hal yang kutulis dalam daftar “100 dreams project” adalah make over kamar. Dari kecil aku emang suka banget ngehias-hias kamar gitu. Waktu SMP, kalo yang lain lagi seneng-senengnya sama telenovela remaja, aku paling suka nonton acara reality show Jepang di TPI, tentang lomba memake over ruangan. Setiap peserta bebas berkreasi namun dengan budget terbatas. Ini serunya. Mau nggak mau mereka harus kreatif. Tak jarang mereka berhasil menyulap barang-barang murah dan kelihatan sepele, menjadi lebih artistik.
Dari situ aku jadi terinspirasi untuk memake over kamar sendiri meski budget minim. Caranya adalah dengan  memanfaatkan barang-barang bekas di sekitar. Misal, mengecat ulang lemari yang sudah lama tidak terpakai, membuat hiasan dinding dari kertas bekas dan kain perca. Bahkan dulu, sangking pengennya punya tempat tidur sendiri, aku menyulap lemari panjang menjadi tempat tidur dengan kasur empuk didalamnya. Selama beberapa tahun aku betah banget tidur di situ sampai akhirnya terpaksa pindah karena kakiku udah nggak cukup lagi didalamnya.
Tentu masih banyak hal kreatif yang bisa dilakukan. Apalagi sekarang udah ada pinterest. Banyak ide-ide yang bisa dicontoh. Jujur sih, kalo udah buka pinterest kadang jadi nggak konsen. Dari yang tadinya mau browsing referensi buat kerjaan, eh malah jadi liat gambar-gambar interior kamar yang lucu-lucu.
Bisa dibilang udah jadi semacam obsesi. Sampai sekarang aku pengen bisa punya kamar yang “aku banget”. Tapi sejauh ini belum pernah benar-benar terwujud. Beberapa tahun hidup nomaden alias pindah-pindah kosan, bikin aku sulit merealisasikannya. Apalagi kamar kosan, yang bukan sepenuhnya milik sendiri. Belum, kalo ternyata nggak betah terus pengen pindah kosan.
Tapi sekarang , meski masih ngekos, aku cukup nyaman. Hampir 4 tahun semenjak kerja di Bandung, aku nggak pindah-pindah kosan lagi. Tiap pulang kerja, ngliatin tembok yang sepi bikin aku greget pengen memake overnya. Singkat cerita, akhirnya kuputuskan kamar ini menjadi proyek eksperimenku.

Dan inilah hasilnya.

Dapet ide awalnya malem-malem pas mau tidur.Karena terlalu excitednya,
 aku sampe nggak bisa tidur. Aku nyalain lampu lagi dan buru-buru
 bikin list barang apa aja yang aku butuhin.
















Nggak ada tema khusus sebenernya. Kalo dilihat secara keseluran kesannya, cherfull, girly dan teenage gitu ya. Warna pink fucia mendominasi karena aku emang suka banget warna itu. Aku kombinasikan dengan warna biru dan putih biar warna pinknya nggak bikin sakit mata alias too much (Kebetulan warna tembok dan karpetnya matching... jadi lumayan enggak usah ngecat ulang lagi)

Dan pastinya aku masih menerapkan asas “Irit Budget”. Artinya, kalo bisa bikin sendiri ngapain beli. Kalo bisa beli dengan harga murah, ngapain beli yang mahal. Hehe.. Karena itulah banyak item yang aku bikin sendiri. Apa aja, sih? Let’s chek one by one!


Sebenernya belum sepenuhnya beres sih. Masih ada beberapa bagian yang pengen aku tambahin. Nanti deh, ku update lagi kalo udah benar-benar jadi.
Intinya, semua terletak pada kreativitas. Percaya deh, dengan keterbatasan justru kita akan terpancing untuk menciptakan karya-karya kreatif. Memang, mungkin akan sedikit memakan waktu. Tapi pasti ada kepuasan tersendiri dibanding beli barang-barang secara instan. Try it!
  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Softlens New More Dubai (Honey Brown)

Sebagai penderita mata minus aku jarang banget memakai softlens. Aku lebih memilih pakai kacamata untuk sehari-hari karena nggak ribet, dan hanya memakai softlens untuk event tertentu saja seperti kondangan atau acara spesial lain. Kebetulan bulan ini banyak banget undangan nikahan. Jadi aku memutuskan untuk beli softlens lagi. Walau hanya perintilan kecil aku ngerasa ini ngaruh banget untuk penampilanku keseluruhan. Meski baju dan dandanan udah cantik, kalau pakai kacamata tuh rasanya kurang perfect aja gitu.

Rekomendasi Dokter Kandungan dan Bidan di Bandung

Adakah yang nyasar ke blog ini karena sedang kebingungan nyari rekomendasi dokter kandungan? Kebingungan yang sama juga sempet aku rasain setahun yang lalu, di awal-awal kehamilanku. Apalagi sebagai pendatang di kota Bandung ini aku sama sekali nggak tau dokter kandungan mana yang bagus. Selama hamil aku selalu berpindah-pindah dokter, dengan hanya mengandalkan informasi dari Google. Positifnya aku jadi tau dokter kandungan mana yang memang benar-benar bagus atau setidaknya cocok denganku. Berikut beberapa di antaranya:

Silly Gilly Daily: Rekomendasi Bacaan untuk Para Introvert

Beberapa tahun ini buku dengan konsep full colour dengan gambar-gambar ilustrasi sedang naik daun. Ditandai dengan munculnya buku #88LOVELIFE karya fashion blogger Diana Rikasari dan ilustrator Dinda PS pada tahun 2015 (Kabarnya buku ini sempat ditolak oleh penerbit sebelum akhirnya menjadi buku best seller ). Hingga baru-baru ini muncul buku yang fenomenal banget, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (nkcthi) yang langsung terjual 5000 eksemplar di menit-menit pertamanya (Aku termasuk salah satu yang menunggu2 buku ini terbit. Sampai harus bolak balik ke toko buku karena selalu sold out ). Kehadiran buku berilustrasi semacam ini menurutku memberi dampak sangat positif sehingga masyarakat antusias datang ke toko buku. Padahal dari segi harga buku ini tidaklah murah. Orang yang tadinya nggak suka membaca mulai tertarik dengan buku karena ilustrasinya. Bagi yang memang hobi membaca, mereka jadi punya alternatif bacaan yang nggak cuma berisi tulisan aja.