Langsung ke konten utama

Perjalanan Seorang Ibu Baru Berdamai dengan Diri Sendiri

Butuh waktu 3 tahun sampai aku bener-bener bisa menerima peran baruku sebagai ibu. Sebelumnya, aku cukup struggle dengan segala perubahan yang terjadi. Duniaku melambat. Aku yang selama ini ambisius tiba-tiba harus kehilangan apa yang selama ini kukejar. Karier, kebebasan, penghasilan dan juga mimpi-mimpiku. Aku ngerasa useless , nggak berharga, nggak berdaya sehingga aku marah ke diri sendiri. Aku juga ngerasa bersalah karena nggak mampu membahagiakan orang-orang yang kucintai. Kondisiku ini, kalau dilihat dari skala kesadaran manusia, berada pada level terendah, lebih rendah dibandingkan perasaan sedih, di mana orang-orang bisa sampai terpikir bunuh diri, itu karena dia udah ada pada level kesadaran tersebut. Untungnya, aku masih cukup waras untuk tidak melakukan hal-hal yang membahayakan. Meski begitu, aku selalu dilanda kecemasan hampir setiap saat. Desember 2021, bulan di mana anakku tepat berusia 3 tahun. Aku merasa bahwa yang terjadi denganku sudah sangat mengganggu. Sempet coba

Surat Nawang Wulan


Telah kutemukan selendangku
di lumbung padi yang lama kehilangan
 bau periuk dan alu

Oh, aku lupa bagaimana cara terbang
Metropolitan mengajariku 
menghitung ketukan high hills
sehingga jelas
kapan waktu mengangkat pinggul
kapan boleh menoreh senyum 

Majalah trend mendikte   
warna baju hingga lipstik yang harus kupakai
 Sampai tak kukenal lagi diri
karna topeng di wajahku kian paten

Aku memuja dewi kecantikan
yang bersemayam dalam cermin
Kurapal mantra-mantra pengundang decak kagum
agar lelaki  bertekuk lutut
dan  nestapa tak lagi menguntit di antara lilit perut

Jaka Tarub telah durjana
mengungkap rahasia para dewa
Kini ia rasakan sendiri
bagaimana melerai nasib
menggantung hidup pada cerobong asap pabrik,
yang menjadikan kepala
serupa mesin-mesin penggerus nurani

Di persimpangan kami mantapkan langkah
demi menukar uang dengan angan
Meski tetap terlampau miskin
bagi kami membeli harga diri

Kepada anakku
yang selalu rindu bahasa ibu
Kutitipkan degup jantung

pada moleknya pendar rembulan di layar kaca
Beradu hiruk pikuk peristiwa
dan dentum lagu pop merajam tanpa jeda

Dengan gemerlap lampu-lampu
manusia amat lihai menyulap setiap malam menjadi purnama
Kami senantiasa berpesta atas kemenangan kami memenggal sepi
Berenang dalam genangan berahi
di bekas telaga
yang kini ditumbuhi beton-beton raksasa
  

Sungguh,
aku tak mau pulang
sebab di sinilah nirwana

( Mei 2010)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Softlens New More Dubai (Honey Brown)

Sebagai penderita mata minus aku jarang banget memakai softlens. Aku lebih memilih pakai kacamata untuk sehari-hari karena nggak ribet, dan hanya memakai softlens untuk event tertentu saja seperti kondangan atau acara spesial lain. Kebetulan bulan ini banyak banget undangan nikahan. Jadi aku memutuskan untuk beli softlens lagi. Walau hanya perintilan kecil aku ngerasa ini ngaruh banget untuk penampilanku keseluruhan. Meski baju dan dandanan udah cantik, kalau pakai kacamata tuh rasanya kurang perfect aja gitu.

Rekomendasi Dokter Kandungan dan Bidan di Bandung

Adakah yang nyasar ke blog ini karena sedang kebingungan nyari rekomendasi dokter kandungan? Kebingungan yang sama juga sempet aku rasain setahun yang lalu, di awal-awal kehamilanku. Apalagi sebagai pendatang di kota Bandung ini aku sama sekali nggak tau dokter kandungan mana yang bagus. Selama hamil aku selalu berpindah-pindah dokter, dengan hanya mengandalkan informasi dari Google. Positifnya aku jadi tau dokter kandungan mana yang memang benar-benar bagus atau setidaknya cocok denganku. Berikut beberapa di antaranya:

Silly Gilly Daily: Rekomendasi Bacaan untuk Para Introvert

Beberapa tahun ini buku dengan konsep full colour dengan gambar-gambar ilustrasi sedang naik daun. Ditandai dengan munculnya buku #88LOVELIFE karya fashion blogger Diana Rikasari dan ilustrator Dinda PS pada tahun 2015 (Kabarnya buku ini sempat ditolak oleh penerbit sebelum akhirnya menjadi buku best seller ). Hingga baru-baru ini muncul buku yang fenomenal banget, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (nkcthi) yang langsung terjual 5000 eksemplar di menit-menit pertamanya (Aku termasuk salah satu yang menunggu2 buku ini terbit. Sampai harus bolak balik ke toko buku karena selalu sold out ). Kehadiran buku berilustrasi semacam ini menurutku memberi dampak sangat positif sehingga masyarakat antusias datang ke toko buku. Padahal dari segi harga buku ini tidaklah murah. Orang yang tadinya nggak suka membaca mulai tertarik dengan buku karena ilustrasinya. Bagi yang memang hobi membaca, mereka jadi punya alternatif bacaan yang nggak cuma berisi tulisan aja.