Sabtu, 11 Agustus 2012

Hujan di Pucuk Malam


Sajak ini kutulis di antara gigil jemari digerogoti sepi. Ketika pucuk hujan menjelma taring, rakus mengoyak jantung. Aku menukar kenangan dengan tubuhku di cermin. Nyata, jantung ini telah terburai, sisakan rongga pekat, sepeti langit menelan warna.

Di luar, air rebah bertubi-tubi menghantam lorong ingatan. Sia-sia kusimpan bayang, mengental di kedua bola mata. Gamang kutatap laju kereta di stasiun kelabu. Aku tau tak ada tempat bagi sepotong surga yang  kubangun sendiri dari tempias hujan dan tanah basah.

Angin pecah di dada. Petir menguntit seperti maut. Kupungut detik-detik yang gugur dan mengering. Berharap lahir cerita yang belum tuntas kau dongengkan.

Malam begitu mencekam. Bayang-bayang bertingkah dalam benak, mengurai duka tak kunjung reda. Tangan biru memburu genggam.

Aku terjaga
Gemetar
Meraba beku waktu
Mencari detakku

(Jogja, 2010)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KitaBeli, Solusi Belanja Aman, Mudah dan Murah dari Rumah

Semenjak diberlakukannya PPKM, mau ke mana-mana semakin susah. Selain harus membawa surat vaksin, nggak semua tempat mengijinkan anak dibawa...