Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2012

Perjalanan Seorang Ibu Baru Berdamai dengan Diri Sendiri

Butuh waktu 3 tahun sampai aku bener-bener bisa menerima peran baruku sebagai ibu. Sebelumnya, aku cukup struggle dengan segala perubahan yang terjadi. Duniaku melambat. Aku yang selama ini ambisius tiba-tiba harus kehilangan apa yang selama ini kukejar. Karier, kebebasan, penghasilan dan juga mimpi-mimpiku. Aku ngerasa useless , nggak berharga, nggak berdaya sehingga aku marah ke diri sendiri. Aku juga ngerasa bersalah karena nggak mampu membahagiakan orang-orang yang kucintai. Kondisiku ini, kalau dilihat dari skala kesadaran manusia, berada pada level terendah, lebih rendah dibandingkan perasaan sedih, di mana orang-orang bisa sampai terpikir bunuh diri, itu karena dia udah ada pada level kesadaran tersebut. Untungnya, aku masih cukup waras untuk tidak melakukan hal-hal yang membahayakan. Meski begitu, aku selalu dilanda kecemasan hampir setiap saat. Desember 2021, bulan di mana anakku tepat berusia 3 tahun. Aku merasa bahwa yang terjadi denganku sudah sangat mengganggu. Sempet coba

Ladang Tebu

Dari surau nan jauh Sayup adzan luruh mengatupkan tubuh Di atas hamparan tanah berjelaga Mencari muasal lengking suara Hilang gerisik dedaun tebu Kawan angin bermain-main Teman senja merumahkan beburung liar Di lengannya yang lebam Aku mulai paham bahasa sunyi Tentang mimpi-mimpi buruk itu Yang selalu menjelma diri Seperti cakar menembus celah belukar dan perdu rerumputan Telah kubaca riwayat luka yang kau tulis pada barisan pohon jati di atas bukit sepenggal demi sepenggal nafas terhempas tanpa sempat kau urai manis yang kau rawat sepanjang musim Kini aku mengerti mengapa engkau selalu menghitung tiap detik pertemuan daun rentamu tengadah mengeja cinta dan nasib di lubuk langit   sementara aku tak hirau, gagal membaca risau Kutimbun malammu dengan cerita betapa gigih aku belajar menjadi purnama Sebab ingin kupersembahkan padamu  gaun pengantin keperakkan Yang akan kau kenakan bila tiba pesta cahaya Di pucuk malam Kupo

Hujan di Pucuk Malam

Sajak ini kutulis di antara gigil jemari digerogoti sepi. Ketika pucuk hujan menjelma taring, rakus mengoyak jantung. Aku menukar kenangan dengan tubuhku di cermin. Nyata, jantung ini telah terburai, sisakan rongga pekat, sepeti langit menelan warna. Di luar, air rebah bertubi-tubi menghantam lorong ingatan. Sia-sia kusimpan bayang, mengental di kedua bola mata. Gamang kutatap laju kereta di stasiun kelabu. Aku tau tak ada tempat bagi sepotong surga yang  kubangun sendiri dari tempias hujan dan tanah basah. Angin pecah di dada. Petir menguntit seperti maut. Kupungut detik-detik yang gugur dan mengering. Berharap lahir cerita yang belum tuntas kau dongengkan. Malam begitu mencekam. Bayang-bayang bertingkah dalam benak, mengurai duka tak kunjung reda. Tangan biru memburu genggam. Aku terjaga Gemetar Meraba beku waktu Mencari detakku (Jogja, 2010)

Euforia Hujan

Kak, Hari ini aku datang tanpa sempat memberitahu Membuat repot jalan raya, mendadak bingung mau berteduh ke mana Genting gaduh, serupa perasaan musti cepat mengemasi segala urusan  Kupikir sekali waktu perlu pula, kutandaskan wajahku di bukubuku anak sekolah di seragam yang baru kemarin selesai dicuci agar kelak mereka mengenangku sebagai puisi Kak, Sekalipun nanti matahari akan marah karena cahayanya kutebas hingga patah Biarlah hari ini aku egois Sebab rindu tak lagi terbendung untuk sampai  padamu (ngomongngomong lucu sekali, sepanjang jalan kudengar orang menggunjing sengit tentang langit salah musim Sementara yang kujatuhkan adalah doadoa mereka yang sempat menumpuk di ruang tunggu) Kuingat bagaimana kau mengusik debu kemarau yang lekat di jendela, dengan goresan angkaangka kalender Di sekat seberang kau bayangkan aku datang merapat Dirimu yang lain berlari riang menangkap kenangan, meski selalu tergelincir dari kedu

Surat Nawang Wulan

Telah kutemukan selendangku di lumbung padi yang lama kehilangan  bau periuk dan alu Oh, aku lupa bagaimana cara terbang Metropolitan mengajariku  menghitung ketukan high hills sehingga jelas kapan waktu mengangkat pinggul kapan boleh menoreh senyum  Majalah trend mendikte    warna baju hingga lipstik yang harus kupakai  Sampai tak kukenal lagi diri karna topeng di wajahku kian paten Aku memuja dewi kecantikan yang bersemayam dalam cermin Kurapal mantra-mantra pengundang decak kagum agar lelaki  bertekuk lutut dan  nestapa tak lagi menguntit di antara lilit perut Jaka Tarub telah durjana mengungkap rahasia para dewa Kini ia rasakan sendiri bagaimana melerai nasib menggantung hidup pada cerobong asap pabrik, yang menjadikan kepala serupa mesin-mesin penggerus nurani Di persimpangan kami mantapkan langkah demi menukar uang dengan angan Meski tetap terlampau miskin bagi kami membeli harga diri Kepada anakku yang sel

Rembang

Telah habis serbuk laras berkabar sukacita pada debu sebatang kara Dan manis menemukan persemayaman terakhirnya Hendak ada upacara turun tahta Paman dikerahkan Dia yang punya terik dan letih Membabat bakal gula bukan miliknya Pasukan merah putih kecil menyerbu medan laga Tawar menawar perasaan Menanam khianat di hati mungilnya Batang tebu sujud sujud di kaki Aduhai, tentu minta dibawa lari Sabar mengharap lena pak tua telanjang dada Kantung ilmu jadi diisi hasil mencuri Rambut merah disengat jemari matahari Pantat merah diupah emak Namun bocah tetap kembali  Tanpa lelah mengawal cakrawala mencari sudut bumi Lalu tebutebu meneruskan perjalanan Menjejaklah kami, Kehidupan baru Agustus 2009 

Kalau hujan reda

Capung yang melintas siang tadi terhuyung murung “Matahari basah kuyup lalu pingsan setelah banjir menyapu negerinya!” Pantas awan mengerak air mulai berloncatan di kakiku Ah, emak lupa angkat jemuran Bapak tak pulang sejak pamit ke pulau seberang Muka pintu berembun enggan terkatup Telungkup mata di atas sepasang lutut Air meriap di dada Kalau hujan reda, Aku ingin punya candikala seperti gambar di kalender kupinang serumpun alang-alang bunga adalah altar dan saksi bagi utusan langit yang datang bertandang                                 Walet berwajah pucat berteduh di balkon tetangga Di sudut laba-laba menggigil, memintal benang terakhir Bibirnya berucap putus asa ” Bagaimana menyulam baju hangat?” Sekeping logam dalam cawan kelelahan mengukur jalan Atap kardus menyerah kalah di tengah pertikaian Laron.. . laro n hati-hati bangun rumah Cacing. . .cacin g Ini tanah sengketa Katak. . .katak Kasihan ya , tak punya saw