Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2012

Perjalanan Seorang Ibu Baru Berdamai dengan Diri Sendiri

Butuh waktu 3 tahun sampai aku bener-bener bisa menerima peran baruku sebagai ibu. Sebelumnya, aku cukup struggle dengan segala perubahan yang terjadi. Duniaku melambat. Aku yang selama ini ambisius tiba-tiba harus kehilangan apa yang selama ini kukejar. Karier, kebebasan, penghasilan dan juga mimpi-mimpiku. Aku ngerasa useless , nggak berharga, nggak berdaya sehingga aku marah ke diri sendiri. Aku juga ngerasa bersalah karena nggak mampu membahagiakan orang-orang yang kucintai. Kondisiku ini, kalau dilihat dari skala kesadaran manusia, berada pada level terendah, lebih rendah dibandingkan perasaan sedih, di mana orang-orang bisa sampai terpikir bunuh diri, itu karena dia udah ada pada level kesadaran tersebut. Untungnya, aku masih cukup waras untuk tidak melakukan hal-hal yang membahayakan. Meski begitu, aku selalu dilanda kecemasan hampir setiap saat. Desember 2021, bulan di mana anakku tepat berusia 3 tahun. Aku merasa bahwa yang terjadi denganku sudah sangat mengganggu. Sempet coba

Cara mengurus kartu identitas yang hilang

Dua minggu yang lalu, saat aku tidur, seorang tamu tak diundang masuk ke dalam rumah. Dia berhasil mengambil dompet dan hp ku (anehnya laptop yang q letakkan di samping hp nggak ikut diambil juga, alhamdulilah ya) Uang yang hilang sih nggak seberapa, tapi semua kartu identitasku ikut raib bersama dompet. Terpaksa aku harus pulang ke jogja untuk mengurus semuanya. Ternyata prosesnya nggak serumit yang kubayangkan. Hanya, memang harus ada niat dan usaha (dan cukup uang tentu saja) Berikut ini ada cara mengurus kartu-kartu identitas yang hilang. Semua kutulis berdasarkan pengalamanku kemarin. 1. Lapor polisi Catat secara detail apa saja yang hilang, misal KTP, ingat berapa nomornya, kalau hp seperti apa spesifikasinya. Hal itu untuk memudahkan polisi dalam membuat surat keterangan kehilangan. 2. Membuat KTP Mendatangi kepala dusun untuk meminta blangko permohonan KTP baru. Mendatangi kelurahan dan menyerahkan: - Surat kehilangan dari kepolisian - Blangko permohonan KTP -Foto 2

Go to Goa Jepang & Goa Belanda

Gagal merayu totong dan ario tak mengurungkan niatku dan ayuk untuk ikut teman-teman berpetualang ke hutan juanda yang terletak di daerah Dago Pakar. Di sana terdapat sebuah gua peninggalan jepang yang disebut gua jepang. Menurut guide yang mengantar kami, gua tersebut dulunya digunakan sebagai tempat persembunyian. Terdapat kamar-kamar untuk beristirahat pasukan Jepang. Jangan dibayangkan seperti kamar kita ya. Kamar tersebut berupa sebuah ceruk kecil di dinding. Ada lorong-lorong yang saling berhubungan. Mirip labirin. Hii.. kalo pergi sendiri aku nggak yakin bisa ketemu jalan keluar. Ditambah lagi tidak ada penerangan sama sekali kecuali dari senter yang kami bawa. Ow ya, aura mistis sangat terasa di sana. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya orbs yang tertangkap kamera. (maaf, belakangan lagi tergila-gila sama orbs).

Berburu Orbs

Masih penasaran sama orbs, akhirnya di malam yang galau aku memutuskan untuk berjalan-jalan. Dengan berbekal sebuah kamera pocket dan ditemani sang pawang lelembut (Andhi Ayuk), kami menyusuri jalan Cihampelas. Cukup merinding juga karena jalan mulai lenggang, banyak toko yang telah tutup. Aku mencoba tak menghiraukannya dengan terus memotret bangungan di sekitarku. Hasilnya sangat mengejutkan! Ternyata banyak sekali orbs di sekitar kami. Dari puluhan foto yang kuambil, sebagian besar muncul penampakan orbs. Berikut beberapa diantaranya.      Jembatan menuju ciwalk. Lokasi ini menjadi salah satu yang terbanyak kemunculan orbsnya. (emang sih dilihat dengan mata telanjang aja tempat ini udah serem. Di tambah lagi kalo malam sepi dan minim penerangan)