Langsung ke konten utama

Perjalanan Menemukan Mimpi Kembali Setelah Punya Anak

Sejak kecil aku menyukai dunia seni dan hal-hal berbau kreatif. Cita-citaku, kalau nggak jadi penulis ya ilustrator (baca: My Passion Story  ) Berangkat dari hal itu, aku memilih jurusan seni sebagai pendidikan formalku.  Selama ini aku cukup idealis dan ambisius dalam mengejar sesuatu. Di sekolah aku termasuk murid berprestasi. Aku senang ikut berbagai kompetisi dan sering memenangkan penghargaan. Aku juga berhasil mendapatkan beasiswa di kampus ternama yang menjadi impian banyak orang. Lalu, setelah lulus aku bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan fashion, sesuatu yang memang aku inginkan selama ini.  Tapi semuanya terhenti sejak aku punya anak. Aku merasa kehilangan banyak hal. Tidak adanya pencapaian membuatku merasa " unworthy ". Bisa dibilang itu menjadi salah satu titik terendahku (baca:  Perjalanan Seorang Ibu Berdamai dengan Diri Sendiri  )  Namun, di saat bersamaan, seolah Tuhan ingin memberitahuku, bahwa hidup tidak sekedar mengejar nilai dan angka-an

Menjelajah Kota Tua, Braga


Menjelajah Bandung memang nggak pernah ada habisnya. Berawal dari rasa ‘kagol’ dengan tugas  kuliah yang nggak juga kelar, padahal udah seharian mantengin laptop, kami pun memutuskan untuk berjalan-jalan. Jalan-jalan kali ini beneran dalam arti sebenarnya! Bayangkan, dari daerah Tamansari sampai jl. Asia Afrika sama sekali kami tak menyentuh angkot dan hanya mengandalkan kedua kaki kami untuk melangkah. Kalau dikira-kira, untuk sampai ke tempat tujuan kami menempuh waktu sekitar 1 jam lebih, itu belum dihitung perjalanan pulangnya loh. Tapi entah kenapa gak ada rasa capek. Setidaknya nggak secapek perjalanan ke kampus (padahal waktu tempuh kontrakan-kampus  hanya sekitar 15 menit).  Mungkin karena kami hanya ingin menikmati pemandangan yang disuguhkan sepanjang jalan, tidak memusingkan tujuan, akan berhenti di mana atau sudah berapa lama kami berjalan.
Percaya atau tidak, sampai di tengah perjalananpun kami masih tidak tahu akan pergi ke mana. Sampai akhirnya kami teringat kota tua yang lama ingin kami kunjungi namun belum kesampaian, Braga. Kubayangkan, kota ini seperti Champs Ellysess-nya Bandung. Sepanjang jalan berderet toko, butik, cafe dan toko-toko lukisan. Dan benar saja, berada di sana rasanya sepeti tersesat di Eropa saja. Bentuk bangunannya mirip bangunan-bangunan Eropa. Bagus deh! Nggak heran tayangan televisi pernah mengambil setting di tempat itu, antara lain iklan SCTV yang jadul bangeett.. Kalau yang terbaru iklannya XL, diperankan Atiqah Hasiholan. Setelah puas melihat-lihat (hanya melihat, karena harga-harga disana pastinya selangit), kamipun melanjutkan perjalanan ke Jl. Asia Afrika, tinggal lurus saja dari Braga. Di situ terdapat gedung-gedung tua, salah satu diantaranya gedung Asia-Afrika yang merupakan tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika. Kebetulan saat itu sedang diadakan pameran “Perjalanan 50 tahun gerakan non blok”. Kami bisa masuk secara cuma-cuma. Di sana kami bertemu Sukarno dan petinggi-petinggi negara lainnya. Sungguh sebuah wisata sejarah yang mengasyikan. Sekali waktu cobalah berwisata ala kami. Hanya dengan modal 0 rupiah, bisa mendapatkan banyak pengalaman berharga. Jangan sampai lupa ya, bawa kamera untuk mengabadikan momentmu. Karena itu yang akan menjadi cenderamata untuk dipamerin ke temen-temen atau bernarsis ria di FB. Selamat mencoba!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Softlens New More Dubai (Honey Brown)

Sebagai penderita mata minus aku jarang banget memakai softlens. Aku lebih memilih pakai kacamata untuk sehari-hari karena nggak ribet, dan hanya memakai softlens untuk event tertentu saja seperti kondangan atau acara spesial lain. Kebetulan bulan ini banyak banget undangan nikahan. Jadi aku memutuskan untuk beli softlens lagi. Walau hanya perintilan kecil aku ngerasa ini ngaruh banget untuk penampilanku keseluruhan. Meski baju dan dandanan udah cantik, kalau pakai kacamata tuh rasanya kurang perfect aja gitu.

Silly Gilly Daily: Rekomendasi Bacaan untuk Para Introvert

Beberapa tahun ini buku dengan konsep full colour dengan gambar-gambar ilustrasi sedang naik daun. Ditandai dengan munculnya buku #88LOVELIFE karya fashion blogger Diana Rikasari dan ilustrator Dinda PS pada tahun 2015 (Kabarnya buku ini sempat ditolak oleh penerbit sebelum akhirnya menjadi buku best seller ). Hingga baru-baru ini muncul buku yang fenomenal banget, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (nkcthi) yang langsung terjual 5000 eksemplar di menit-menit pertamanya (Aku termasuk salah satu yang menunggu2 buku ini terbit. Sampai harus bolak balik ke toko buku karena selalu sold out ). Kehadiran buku berilustrasi semacam ini menurutku memberi dampak sangat positif sehingga masyarakat antusias datang ke toko buku. Padahal dari segi harga buku ini tidaklah murah. Orang yang tadinya nggak suka membaca mulai tertarik dengan buku karena ilustrasinya. Bagi yang memang hobi membaca, mereka jadi punya alternatif bacaan yang nggak cuma berisi tulisan aja.

Talk about Relationship

Ada sebuah buku menarik berjudul Eneagram karya Renee Baron dan Elizabeth Wagele. Yang berisi tentang 9 tipe kepribadian manusia. Selain memberi ulasan tentang masing-masing tipe, buku ini juga memberikan semacam test untuk mengetahui termasuk ke dalam tipe manakah kita. Beberapa waktu lalu aku dan suami sama-sama mencoba test tersebut dan hasilnya cukup mengejutkan. Point tertinggi yang kuperoleh ada pada tipe romantis. Sebaliknya di tipe ini suami mendapat point terendahnya. Dari situ akupun menyadari apa yang sering menjadi akar masalah kami selama ini, terutama di tahun-tahun awal kami bersama. Kami memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Aku sering merasa suami terlalu cuek, tidak perhatian dan tidak romantis. Sebaliknya, mungkin ia merasa kesal karena aku terlalu melankolis dan lebay. Lalu bagaimana akhirnya kami bisa bertahan dengan perbedaan tersebut? Jodoh bukan berarti harus 100% langsung cocok. Butuh proses panjang untuk itu. Karena pada dasarnya setiap orang memili