Langsung ke konten utama

Perjalanan Menemukan Mimpi Kembali Setelah Punya Anak

Sejak kecil aku menyukai dunia seni dan hal-hal berbau kreatif. Cita-citaku, kalau nggak jadi penulis ya ilustrator (baca: My Passion Story  ) Berangkat dari hal itu, aku memilih jurusan seni sebagai pendidikan formalku.  Selama ini aku cukup idealis dan ambisius dalam mengejar sesuatu. Di sekolah aku termasuk murid berprestasi. Aku senang ikut berbagai kompetisi dan sering memenangkan penghargaan. Aku juga berhasil mendapatkan beasiswa di kampus ternama yang menjadi impian banyak orang. Lalu, setelah lulus aku bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan fashion, sesuatu yang memang aku inginkan selama ini.  Tapi semuanya terhenti sejak aku punya anak. Aku merasa kehilangan banyak hal. Tidak adanya pencapaian membuatku merasa " unworthy ". Bisa dibilang itu menjadi salah satu titik terendahku (baca:  Perjalanan Seorang Ibu Berdamai dengan Diri Sendiri  )  Namun, di saat bersamaan, seolah Tuhan ingin memberitahuku, bahwa hidup tidak sekedar mengejar nilai dan angka-an

Dunia Bisu 2


Belum pernah Malioboro kurasa seindah ini

Depan pasar Klithikan:
Debu-debu mengkristalkan rindu. Tumpahkanlah dari bejana hatimu. Aku berdiri di sini untukmu

Sepanjang Malioboro:
Aku penari. Tanpa gemerincing gelang dan selendang. Hanya debar menjadi irama. Rona merah terpulas sempurna di muka. Tarianku adalah langkah kakimu. Dalam gemulai jemari, kutarikan kata hati. Tersembunyi tanpa kau tau. Gedung dingin melirikmu cemburu. Wahai lelaki, hendak kau culikk ke mana gadis kami?

Vedebrug:
Kau masih pelangi. Meski tanpa gerimis dan senja telah lewat. Di antara berjuta jiwa, kucari lagi binarnmu. Ketemu! Berbatas tipis di garis mimpi. Kau lelaki, kenapa tertunduk malu? Nikmati saja gejolak jiwa dan debarannya. Lelaplah dalam euforia tanpa kata. Dunia bisu tetap milik kita.

Depan BI seperti biasa:
Jam waktu yang menggantung di dinding langit berkali berisyarat. Siap menghujamkan perisai kedua di antara kita. Tak jerakah kau tanggung sesal setahun? Sekarang untuk entah. Meski panas meranggas sukma, dan tubuh di lumpuh malu, tak jugakah ingin kau ungkap kata yang tersembunyi dari balik gelisahmu?

Pada akhirnya di ujung penantian terlama:
Lampu-lampu kota menjalma cahaya malaikat. Tanpa kedipan menyaksikan tangan kita bersentuhan. Lembut tanganmu dan dinginnya logam. Kudekap liontinmu di dada. Kita berbalik muka, beradu punggung. Tanpa mampu kuhitung satu detikpun. Tanpa mata bertautan. Tanpa kau tau butir kaca tersudut di kelopakku. Terbayar lunas segala luka. Tertembus katup relung rindu dan ragu. Terjawab semua tanya.

Lalu seketika kita terjebak dalam dejavu masa lalu. Dewa yang berkuasa atasmu. Kau pelangi. Maka kewajibanku menyaksikanmu pergi. Ya, secepat ini. Aku menengadah. Mengharap sinarmu kembali melengkung di langit kotaku

(Juni 2009)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Softlens New More Dubai (Honey Brown)

Sebagai penderita mata minus aku jarang banget memakai softlens. Aku lebih memilih pakai kacamata untuk sehari-hari karena nggak ribet, dan hanya memakai softlens untuk event tertentu saja seperti kondangan atau acara spesial lain. Kebetulan bulan ini banyak banget undangan nikahan. Jadi aku memutuskan untuk beli softlens lagi. Walau hanya perintilan kecil aku ngerasa ini ngaruh banget untuk penampilanku keseluruhan. Meski baju dan dandanan udah cantik, kalau pakai kacamata tuh rasanya kurang perfect aja gitu.

Silly Gilly Daily: Rekomendasi Bacaan untuk Para Introvert

Beberapa tahun ini buku dengan konsep full colour dengan gambar-gambar ilustrasi sedang naik daun. Ditandai dengan munculnya buku #88LOVELIFE karya fashion blogger Diana Rikasari dan ilustrator Dinda PS pada tahun 2015 (Kabarnya buku ini sempat ditolak oleh penerbit sebelum akhirnya menjadi buku best seller ). Hingga baru-baru ini muncul buku yang fenomenal banget, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (nkcthi) yang langsung terjual 5000 eksemplar di menit-menit pertamanya (Aku termasuk salah satu yang menunggu2 buku ini terbit. Sampai harus bolak balik ke toko buku karena selalu sold out ). Kehadiran buku berilustrasi semacam ini menurutku memberi dampak sangat positif sehingga masyarakat antusias datang ke toko buku. Padahal dari segi harga buku ini tidaklah murah. Orang yang tadinya nggak suka membaca mulai tertarik dengan buku karena ilustrasinya. Bagi yang memang hobi membaca, mereka jadi punya alternatif bacaan yang nggak cuma berisi tulisan aja.

Talk about Relationship

Ada sebuah buku menarik berjudul Eneagram karya Renee Baron dan Elizabeth Wagele. Yang berisi tentang 9 tipe kepribadian manusia. Selain memberi ulasan tentang masing-masing tipe, buku ini juga memberikan semacam test untuk mengetahui termasuk ke dalam tipe manakah kita. Beberapa waktu lalu aku dan suami sama-sama mencoba test tersebut dan hasilnya cukup mengejutkan. Point tertinggi yang kuperoleh ada pada tipe romantis. Sebaliknya di tipe ini suami mendapat point terendahnya. Dari situ akupun menyadari apa yang sering menjadi akar masalah kami selama ini, terutama di tahun-tahun awal kami bersama. Kami memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Aku sering merasa suami terlalu cuek, tidak perhatian dan tidak romantis. Sebaliknya, mungkin ia merasa kesal karena aku terlalu melankolis dan lebay. Lalu bagaimana akhirnya kami bisa bertahan dengan perbedaan tersebut? Jodoh bukan berarti harus 100% langsung cocok. Butuh proses panjang untuk itu. Karena pada dasarnya setiap orang memili