Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2012

Perjalanan Menemukan Mimpi Kembali Setelah Punya Anak

Sejak kecil aku menyukai dunia seni dan hal-hal berbau kreatif. Cita-citaku, kalau nggak jadi penulis ya ilustrator (baca: My Passion Story  ) Berangkat dari hal itu, aku memilih jurusan seni sebagai pendidikan formalku.  Selama ini aku cukup idealis dan ambisius dalam mengejar sesuatu. Di sekolah aku termasuk murid berprestasi. Aku senang ikut berbagai kompetisi dan sering memenangkan penghargaan. Aku juga berhasil mendapatkan beasiswa di kampus ternama yang menjadi impian banyak orang. Lalu, setelah lulus aku bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan fashion, sesuatu yang memang aku inginkan selama ini.  Tapi semuanya terhenti sejak aku punya anak. Aku merasa kehilangan banyak hal. Tidak adanya pencapaian membuatku merasa " unworthy ". Bisa dibilang itu menjadi salah satu titik terendahku (baca:  Perjalanan Seorang Ibu Berdamai dengan Diri Sendiri  )  Namun, di saat bersamaan, seolah Tuhan ingin memberitahuku, bahwa hidup tidak sekedar mengejar nilai dan angka-an

Laptopku Sayang

Hari Jumat minggu lalu menjadi salah satu hari paling kelabu dalam hidupku. Laptopku nggak mau nyala   meski sudah dicolokin kabelnya dan dipencet-pencet tombol powernya. Seharian itu aku nggak bisa ngapa-ngapain. Nyawaku ada di laptop itu. Aku sempat minta pertolongan ke teman yang pinter ngutak-atik komputer. Kupikir hanya perlu instal ulang, tapi ternyata nggak berhasil. Keesokaannya kupriksakan laptop q itu ke BEC. Ternyata, kata mas tukang servis, ada masalah dengan VGAnya sehingga terpaksa harus diservis. Untunglah, laptopku masih bisa terselamatkan, hanya saja aku harus merelakan uang lima ratus ribu melayang karenanya. Ternyata masalahnya cukup sepele. Aku memakai u-buntu dan windows 7 sekaligus. Apalagi u-buntu sebenarnya nggak cocok diinstal di laptop, terlalu berat. Kapasitasnya nggak sememadahi mac atau PC. Hiks, seandainya aku tahu dari dulu, semua ini takkan terjadi. Tapi nggak papa, ini pelajaran berharga. Buat yang belum nyoba, jangan pernah coba di rumah ya.!

Menjelajah Kota Tua, Braga

Menjelajah Bandung memang nggak pernah ada habisnya. Berawal dari rasa ‘kagol’ dengan tugas  kuliah yang nggak juga kelar, padahal udah seharian mantengin laptop, kami pun memutuskan untuk berjalan-jalan. Jalan-jalan kali ini beneran dalam arti sebenarnya! Bayangkan, dari daerah Tamansari sampai jl. Asia Afrika sama sekali kami tak menyentuh angkot dan hanya mengandalkan kedua kaki kami untuk melangkah. Kalau dikira-kira, untuk sampai ke tempat tujuan kami menempuh waktu sekitar 1 jam lebih, itu belum dihitung perjalanan pulangnya loh. Tapi entah kenapa gak ada rasa capek. Setidaknya nggak secapek perjalanan ke kampus (padahal waktu tempuh kontrakan-kampus  hanya sekitar 15 menit).  Mungkin karena kami hanya ingin menikmati pemandangan yang disuguhkan sepanjang jalan, tidak memusingkan tujuan, akan berhenti di mana atau sudah berapa lama kami berjalan.

Tentang Pelangi Kecilku

Aku membaca senja yang hilang di matamu Siapa sembunyikan tarian tujuh rupa bidadari? Sekeping mozaik diasingkan waktu Pelangi kecilku meniup tujuh cahaya lilin Itulah tonggak habisnya segala pelita jiwa Adalah sekedar dalih darah yang mengaliri nadi Sebab hulunya telah ditanam benci Dua pasang mata dulu singgah dalam bahtera Pelangi kecilku bertanya: Apakah detak yang mereka cipta bagian dari prosesi dan bukan pernyataan cinta? Masih lekat semalam ibunda berbisik mantera manis bungabunga mimpi Selalu Ia latah di akhir kisah “Dan akhirnya mereka hidup bahagia selamanya” Rupanya dinding mulai jemu mengendapkan   kebohongan Dinihari retak menyemburkan lukaluka karatan Angin sibuk merekam makian Embun saling bentur berdenting jatuh di kelopak yang terpejam ketakutan Pelangi kecilku menepi di sudut rumah kematiannya demi tak ingin lagi melihat kasih sayang demi tak mau dengar ketukan ayah ibu pulan

Dunia Bisu 2

Belum pernah Malioboro kurasa seindah ini Depan pasar Klithikan: Debu-debu mengkristalkan rindu. Tumpahkanlah dari bejana hatimu. Aku berdiri di sini untukmu Sepanjang Malioboro: Aku penari. Tanpa gemerincing gelang dan selendang. Hanya debar menjadi irama. Rona merah terpulas sempurna di muka. Tarianku adalah langkah kakimu. Dalam gemulai jemari, kutarikan kata hati. Tersembunyi tanpa kau tau. Gedung dingin melirikmu cemburu. Wahai lelaki, hendak kau culikk ke mana gadis kami? Vedebrug: Kau masih pelangi. Meski tanpa gerimis dan senja telah lewat. Di antara berjuta jiwa, kucari lagi binarnmu. Ketemu! Berbatas tipis di garis mimpi. Kau lelaki, kenapa tertunduk malu? Nikmati saja gejolak jiwa dan debarannya. Lelaplah dalam eu f oria tanpa kata. Dunia bisu tetap milik kita. Depan BI seperti biasa: Jam waktu yang menggantung di dinding langit berkali berisyarat. Siap menghujamkan perisai kedua di antara kita. Tak jerakah kau

Narasi Laut

Cahaya jatuh tanpa sisakan bayang Kami tiba di negeri dongeng, Sebuah negeri yang pernah moyang tuturkan lewat   aroma hutan masa silam Kaki menyentuh langit Angin pecah di dada   tak pelak membuncahkan rasa yang telah bemukim lama Kau percaya tak ada jarak yang menjadi jarak Dalam sebuah prosesi aku menyaksikan Laut mengharu biru   dipeluk gunung Layaknya rindu menahun yang musti dituntaskan usai pengembaraan jauh Dengan kesetiaan abadi ombak mengikis keangkuhan Awan rebah di atas pepasir basah lebur bersama tarian ikan-ikan kecil menjadi buih   memercik di tubuhku Lantas, kenapa tidak kubentang layar Mendayung seiring doa-doa panjang Suatu hari perahuku akan tiba di hatimu (Yogya, juni 2010)

Obituari, di Depan Pusara Tahun

Tuan , semalam kita menyaksikan detik-detik renta tergelincir dalam pusara Kurenggut pekat langit dengan percik api yang kutuai dari dadamu Kuserahkan nadiku yang tandus untuk kau aliri darah agar jelaga di jariku luruh menjadi bait-bait bersayap Ini upacara kematian Dan kita merayakannya dengan tambur seperti sepasang mempelai Ah, bukankah air mata adalah keranda bagi tubuhnya sendiri? Aku telah berhenti merawat luka Semoga waktu tak lagi risau dengan benih musim dalam rahim Tuan, ada cincin di tubuh purnama! (Januari 2010)